Pendahuluan buku terbaru saya: “6 Habits Of Highly Successful Research”

Hati saya miris sekali ketika mendengarkan sejumlah kawan mengatakan skripsi/penelitian itu sukar. Tak hanya mahasiswa, sejumlah kawan saya yang ingin memasuki dunia marketing research (riset pemasaran) pun mengungkapkan hal yang sama. Terutama yang berkait erat dengan data kuantitatif dan segala pernak pernik penelitan. Karena apa? Yang terbayang dalam benak kawan-kawan saya itu adalah data kuantitatif pasti bergelut dengan angka dan rumus yang njelimet. Apalagi bagi mereka yang sejak SMA takut benar dengan pelajaran Matematika. Pastilah, rasa sebel dan malas menyelinap ketika berhadapan dengan tugas penelitian atau bekerja dibidang penelitian pasar. Saya menyadari alasan kuat mereka mengatakan hal tersebut. Sebagai seorang statistisi, tentunya, ini tantangan terbesar bagi saya: bagaiamana menjelaskan langkah-langkah melakukan penelitian kepada mahasiswa maupun mereka yang bergelut dengan riset pemasaran secara mudah dan sederhana. Pertanyaan-pertanyaan sejumlah kolega justru memacu adrenalin saya untuk berinovasi. Saya termotivasi. Saya tergerak. Saya tertantang. Saya terinspirasi menuliskan buku ini.

Tak ada lagi kekhawatiran atau ketakutan untuk mengerjakan skripsi/penelitian. Tak ada lagi keraguan bagi teman-teman yang ingin meniti karier di bidang Marketing Research. Itulah salah satu cita-cita saya sebagai sumbangsih kepada teman-teman. Banyak teman yang tak kunjung memulai skripsi/penelitiannya karena merasakan ketakutan. Seolah-olah skripsi/penelitian seperti makhluk menakutkan. Skripsi/penelitian menjadi beban. Tak mengherankan, jika menjelang di tahun terakhir, sebagian mahasiswa frustasi. Pelampiasannya berupa rasa tak peduli. Masa bodoh! Itu hal yang lumrah. Wajar-wajar saja.

Yang tak wajar, kalau diri kita tak mau peduli akan masa depan. Kita tak mau lagi ambil pusing dengan skripsi. Biarkan saja waktu berjalan. Biarkan saja hidup saya mengalir apa adanya. Kalau sudah begini, gelar sarjana tak kunjung melekat. Berlama-lama di bangku kuliah bukanlah hal yang baik. Terlebih, umur kian bertambah, tapi tak kunjung menuntaskan gelar sarjananya. Belum lagi, kita harus mengeluarkan uang untuk tetap bertahan di bangku kuliah. Pemborosan kan?

Begitupun dengan Anda yang telah lulus perkuliahan. Begitu terbuka peluang besar untuk berkarier di bidang riset pemasaran. Akhir-akhir ini, perkembangan riset pemasaran cukup  menjanjikan. Banyak sudah perusahaan-perusahaan asing seperti ACNielsen, TNS, Synovate, Insight-Asia dan lainnya yang membutuhkan karyawan untuk berkarier dibidang riset. Perusahaan-perusahaan ini membuka lebar-lebar berbagai jurusan untuk masuk dan bergabung. Tak heran, jika jurusan komunikasi, teknik industri, bahasa inggris, dan lainnya tetap dapat memasuki perusahaan riset tersebut.

Ketakutan, kekhawatiran, kemalasan, dan lainnya merupakan hal-hal yang wajar saja. Sekali lagi, yang tidak wajar, apabila ketakutan itu telah mendarah daging dalam derap langkah hidup kita. Akibatnya, semudah apa pun pekerjaan, tugas, dan lainnya justru menjadi sukar. Oleh sebab itu, langkah awal guna mencapai kemudahan yaitu  mengubah mind-set kita. Dari mindset gagal menjadi mindset sukses.

Mengerjakan skripsi itu mudah. Melakukan penelitian (misalnya riset pamasaran, baik kualitatif maupun kuantitatif) itu menyenangkan. Ya, mudah dan menyenangkan! Tak sesulit apa yang pernah Anda pikirkan. Mungkin Anda mengatakan, diri saya mengatakan demikian karena saya kuliah di jurusan statistik, Sekolah Tinggi Ilmu Statistik. Tidak!!! Justru, dengan saya berinteraksi, memasuki dunia Marketing Research, membimbing sejumlah kawan, saya semakin yakin penelitian itu mudah.

Saya teringat sekali dengan pengalaman seorang kawan. Kawan saya ini mahasiswi ilmu komunikasi di universitas swasta di Jakarta. Sudah bertahun-tahun, ia tak kunjung menyelesaikan skripsinya. Alasannya sederhana: karena ketidaktahuan untuk memulai. Bingung mau mulai dari mana. Alhamdulillah, saya dipertemukan Allah dengannya.

Ia pun menceritakan segala kesulitannya. Keterbukaannya pada saya justru menambah kegairahan saya untuk segera memberikan pemahaman sederhana dan mudah melewati perjuangan menuntaskan skripsinya. Saya jadikan dia sebagai kelinci percobaan…, ups, kidding! Maksud saya, ia sesegera mungkin mengkonsultasikan permasalahannya. Sekali lagi, alhamdulillah, ternyata melalui panduan yang praktis, ia dapat menyelesaikan skripsi tanpa hambatan berarti.

Ternyata, ketidaktahuan cara memulai penelitian alasan yang kerap kali melanda keterlambatan menyelesaikan skripsi. Memang benar, semenjak mengenyam bangku perkuliahan mereka memeroleh mata kuliah statistik, metodologi penelitian dan juga riset dibeberapa fakultas. Otomatis, mereka diajarkan tata cara bergulat dengan penelitian. Hanya saja, sering kali, mata kuliah statistik terkesan berat, menakutkan, sukar, dan beragam presepsi lainnya. Belum lagi, dosen yang menyampaikan terkesan galak dan jutek. Maka, lengkap sudah penderitaan sang mahasiswa. Akibatnya, tak bisa dipungkiri, mengikuti mata kuliah statistik seperti memasuki ruang “neraka”. Akibat lainnya yaitu kita tak mau mencoba berkarier di bidang penelitian, karena ya, itu tadi, kita sudah terlanjur “takut” dengan sesuatu yang “berbau” angka, data,  tabel, dan grafik.

Berkelakar tentang statistik memang tak selamanya menyenangkan. Terkadang, bahkan sering mengerutkan dahi. Kita juga tak harus percaya seratus persen angka-angka statistik. Karena apa? Statistik hanyalah bersifat meramalkan kebenaran atau paling tidak mendekati kebenaran.

Jaman dulu, mungkin juga sampai sekarang ini, sebagian orang masih percaya dengan ramalan dukun. Padahal, dukun hanya memprediksikan berdasarkan intuisi atau bisikan-bisikan roh halus. Berbeda dengan statistik, ramalan yang dibuat berdasarkan pada fakta. Saya akan memberikan penjelasan lebih lanjut perihal seluk beluk dunia statistik di bab mendatang.

Baiklah. Kita kembali ke bahasan skripsi/penelitian dan rasa ketakutan. Penelitian, termasuk skripsi, hendaknya kita jadikan sebagai pembelajaran. Bukan menjadi beban. Oleh sebab itu, kita membutuhkan tata cara yang mumpuni dalam mengakhiri penelitian kita. Sekali lagi, menyelesaikan skripsi itu mudah. Bergelut di dunia marketing research juga mudah. Saya teringat kata pepatah yang sudah sangat lama: ada kemauan maka ada jalan. Bahkan, tanpa mempelesetkan pepatah itu, tanpa kemauan pun jalan penyelesaian tetap terbuka lebar-lebar. Lho, apa iya?

Saya beri satu contoh konkrit. Kerap kali saya temui anak-anak mahasiswa yang skripisnya selesai cepat kilat, instan. Hasilnya memang memuaskan. Namun, begitu menghadapi persidangan sang mahasiswa kebingungan. Ya, kebingungan bagaimana cara memaparkan hasil penelitiannya pada sang penguji. Tak ada yang dapat mewakili. Sang mahasiswa harus berhadapan di meja sidang. Tatap menatap dengan sang penyidang. (Dalam hal ini kita singkirkan dulu masalah teknik presentasi, karena itu adalah pokok bahasan yang berbeda)

Karakteristik mahasiswa seperti inilah yang patut saya curigai. Saya tak berprasangka buruk. Tidak. Hanya saja, satu kekhawatiran saya. Apa itu? Jangan-jangan skripsi sang mahasiswa bukan hasil buah tangannya. Jangan-jangan hasil pengerjaan orang lain. Sang mahasiswa terima bersih. Cukup mengeluarkan sekian juta, skripsi pun selesai. Kalau dapat dipermudah kenapa mesti dipersulit.

Kita lupakan soal menyoal buat-membuatkan skripsi. Sekarang, kita harus yakin dengan kemampuan diri kita. Kita harus meyakini bahwa skripsi bukan sekedar prasarat memeroleh gelar kesarjanaan. Bukan. Akan tetapi, lebih dari sekedar sarjana. Banyak pembelajaran yang dapat kita petik.

Saya jadi teringat cerita seorang kolega yang berdarah-darah, penuh pengorbanan berjuang menuntaskan skripsinya. Selain, kesulitan tak mengerti bagaimana memulai penelitian, ia pun mengalami hubungan yang kurang mengenakkan dengan dosen pembimbing. Beberapa kali ia mengajukan topik, tapi selalu saja di tolak. Hingga dua bulan lamanya, sang dosen menolak lamaran skripsinya. Alasannya, topik yang diajukan kurang relevan, sudah jauh ketinggalan jaman dan lain sebagainya.

Saya katakan padanya hal tersebut biasa-biasa saja. Skripsi bukan sekedar asal-asalan cari topik. Harus punya banyak pertimbangan matang, dan harus bisa diteliti serta memiliki nilai manfaat. Dengan begitu, tatkala kita berhadapan dengan sang pembimbing, kita memiliki jurus-jurus ampuh, mengemukakan argumen-argumen sehinggga hati sang dosen luluh.

Kalau pun, kita yakin sekali  bahwa topik yang kita ajukan sangat bagus, relevan, dan lagi hangat di masyarakat, maka boleh jadi penolakkan sang dosen tetap saja terjadi. Jangan-jangan, cara kita menyampaikan kurang bagus.

Tak perlu khawatir. Semua hal-hal yang terpapar di atas, akan saya akan ulas di dalam buku ini yaitu bagaimana menyelesaikan skripsi tanpa berdarah-darah, tanpa terbebani. Saya yakin setelah membaca buku ini, Anda akan menggeleng-gelengkan kepala. Lalu, Anda akan berkata: skripsi itu mudah! Research itu mudah!

            Sebelum mengakhir bagian ini, saya berharap Anda tak patah arang menerima penolakan topik dari sang dosen. Saya akan tunjukkan bagi Anda cara menentukan topik tanpa adanya penolakan. Saya akan pandu Anda bagaimana mencari dan menemukan permasalahan, tujuan penelitian, mencari dan mengolah data, sampai tahapan analisis. Sekali lagi, tak perlu khawatir. Segera tuntaskan saja membaca buku ini. Setuju kan? Selamat membaca!

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s