Menulis ditengah banyaknya kesibukkan

Beberapa hari lalu, saya menerima sebuah email dari seorang pembaca El-Ka Majalah Islam Sabili. Uniknya, email ini datangnya dari anak kelas tiga SMP. Sungguh sangat membahagiakan bagi diri saya. Setidaknya, anak ini punya semangat menggebu-gebu melahirkan karya. Membaca surat darinya saya tersenyum bahagia.


 Pertama kali saya ucapkan terima kasih kepada adek yang sudah mau mengeluarkan impian-impiannya. Sangat bagus sekali, kalau adik menumbuhkembangkan, memupuk, dan memelihara impian-impian itu. Karena, dengan impianlah, adek dapat memacu diri menjangkau impian-impian itu.


 Adek yang dirahmati Allah, sebenarnya, tak ada rumusan lain untuk menghasilkan karya (berupa tulisan) kecuali terus berlatih menulis. Menulislah dan teruslah menulis. Menulislah tanpa beban. Menulislah tanpa memikirkan tatakebahasaan (EYD). Insya Allah, semakin adik terbiasa menulis, otomatis, semakin baik, penggunaan tata bahasa adik.
 Tak kalah penting juga, adik harus banyak-banyak membaca, dan menulislah apa yang adik sukai. Misalnya adik suka membaca novel, maka sering-seringlah menulis novel atau cerpen. Kalau senang baca buku nonfiski, maka banyak-banyaklah nulis buku nonfiksi (misalnya cara baru bermain layangan).
 Paling bagus sih kalau adik rajin-rajin nulis buku harian. Buku harian itulah sebagai sarana adik untuk berlatih menulis setiap harinya. Tuliskan saja pengalaman-pengalaman keseharian adik. Mudah kan? Nggak susah kok? Dicoba ya!
 Lantas, bagaimana dengan kesibukkan adik ditengah-tengah menghadapi ujian akhir sekolah? Saran kakak, tetap fokus pada persiapan ujian, sambil menulis buku harian. Caranya mudah sekali, menjelang tidur, silahkan adik tuliskan pengalaman-pengalaman keseharian adik pada hari itu. Lalu tidurlah. Mudah kan?
 Mengenai penerbit? Mudah dan sangat mudah. Yang terpenting menulislah dengan baik. Hasilkan karya yang bagus. Insya Allah, penerbit mau menerimanya. Coz, penerbit amat tertarik sama karya yang unik, enak dibaca, mudah dipahami, dan seterusnya. Intinya, nggak perlu mikir masalah tulisan kita diterbitkan atau nggak. Justru yang paling penting berfokuslah pada kualitas tulisan kita. Mudah kan?

2 thoughts on “Menulis ditengah banyaknya kesibukkan

  1. buntoro berkata:

    Bismillah..
    Pastikan apa yang ditulis adalah benar.
    Dari segi isi, sesuai dengan syariat.
    Tidak ada dusta.
    Jauhi persangkaan.
    Apalagi jika membawakan hadits Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-.
    Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang menceritakan dariku satu hadits yang dia sangka (dalam lafazh lain: yang dia telah mengetahuinya) sesungguhnya hadits itu dusta, maka dia termasuk salah seorang dari para pendusta.” (Hadits ini shohih, lihat keterangan Imam Muslim di muqaddimah Shahih-nya)
    Sesungguhnya kewajiban setiap muslim dan muslimah adalah menuntut ilmu syar’i.
    Dan jauhilah berkata dan berbuat tanpa dasar ilmu, al-Qur-an dan Sunnah.
    Imam Bukhari membuat bab khusus di kitab Shahih-nya, Bab Ilmu Sebelum Perkataan dan Perbuatan.
    Karena segala sesuatu akan dimintai pertanggungjawabannya. Dan setiap orang akan dihisab sesuai apa yang ia kerjakan.
    Jauhi juga penggunaan gambar makhluk bernyawa.

    Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata : “Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ALLAH ta’ala berfirman : Dan siapakah yang lebih dzalim dari mereka yang akan membuat satu ciptaan seperti ciptaan-Ku, maka hendaknya mereka menciptakan satu dzarrah, atau biji, atau gandum.” (Dalam Shahihain, lafadz Riwayat Muslim).

    Dari Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata : Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : “Sesungguhnya manusia yang paling keras disiksa di hari Kiamat adalah para tukang gambar (mereka yang meniru ciptaan Alloh)”. (Shohihain – yakni dalam dua kitab Shahih Bukhori dan Muslim)

    Dari Ibnu Umar -radhiyallahu ‘anhu- berkata : Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : “Sesungguhnya orang yang membuat gambar-gambar ini akan disiksa hari kiamat, dan dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkanlah apa yang telah kalian buat!’”. (Dalam Shahihain, lafadz Bukhari).

    Wallohu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s