Bagian Satu: Diam dalam Tempurung (2)

 

Udara pagi ini, kian mencekang, suara ibu kian tak terdengar, seolah-olah ia ingin membisikkan padaku, sesuatu yang sangat amat sakral, sesuatu yang tak seorang pun tahu: sebab musabab kepergian ayahku. Mungkin Andalah yang akan tahu apa sebenarnya dibalik kepergian ayahku itu. Dan kenapa ibu terus membanting tulang memperjuangkan anak-anaknya supaya terus berjuang membelah samudera kehidupan ini.

            Aku diam membisu, memerhatikan setiap gerak gerik setiap deretan kata-kata ibu, sepertinya kata-kata ini cukup membuatku marah bercampur sedih, kata-kata yang begitu sangat mengharukan untuk aku sampaikan pada Anda. aku seperti berkontemplasi, mengembara ke alam pengalaman pahit ibuku, yang saat ini aku rasakan betapa pengalaman itu sungguh menerobos kuat-kuat dalam hati terdalamku.

            Kata ibu sambil terisak tangis, “Ayahmu pergi semenjak engkau dalam kandunganku nak…dan kedengarannya ayahmu sudah mempersunting wanita lain di perantauan sana.”

            Kata-kata itu membombardir seluruh sukma jiwaku, darah kelaki-lakianku bergetar kuat, jantungku runtuh, udara seketika menjadi panas dingin tak tentu, wajahku berubah seratus delapan puluh persent, tak terhankan lagi tingkat kemarahanku memuncak. Lalu, pantat ini seolah-olah terasa panas, kaki-kaki ini terasa gatal, badan ini seolah-olah ditumbuhi jamur-jamur ganas yang siap memangsa korbannya.

            “KENAPA AYAH TINGGALKAN IBU?”

Keras sekali suaraku berteriak dengan cara yang tak sopan di depan ibu. Masya Allah, kesadaranku benar-benar tak terkendalikan lagi, seperti ada jin kesurupan, eh, maksudku seperti orang kesurupan atau lebih tepatnya orang yang jiwanya tidak normal. Kalau engkau melihatku, pasti engkau tak percaya anak sekecil ini bisa saja berubah menjadi ganas, ganas, dan sangat ganas.

            Namun, seketika itu, lentik jari-jemari yang lembut, elusan yang penuh kasih, kecupan yang penuh cinta, menyadarkan aku bahwa kesabaran itu harus tertancap kuat dalam sukma dadaku. “Jangan pernah engkau menjadi sang pendendam karena itu tak ada faedahnya. Banyak orang sakit jantung lalau tewas seketika karena mereka tak mampu mengendalikan nafsu dendam dan amarahnya. Mau kah engkau mati dalam keadaan seperti itu, mati dalam kondisi yang tak terhormat? Malaikat pun tak akan hormat padamu, nak. Maka bawahlah dirimu dengan kesabaran niscaya engkau selamat anakku.”

Alasan apa sebenarnya yang membuat ayahku itu mempersunting wanita lain, kurang apakah ibuku ini, kurang cantikah, tentu tidak, kurang solehkah, juga tidak. Tapi, apa boleh buat, masa-masa itu sudah berlalu, dan aku sadari menuntut balik padanya tidaklah mungkin. Karena ibu sendiri telah mengikhlaskan ayahku untuk menikahi wanita diperantauan sana, dan ibuku menyadari akan kekurangannya selama ini. Sehingga, dengan keihklasan itu ibuku menerima cerai dari sang ayah. Aku tak paham.

            Yang paling membuatku terharu yaitu perjuangan beliau. Meski ditinggali dua orang anak, ibu tak pernah mengeluh, apa lagi marah-marah. Ia jalani kehidupan ini dengan penuh semangat, spirit, dan segudang kebahagiaan. Meski harus dililit hutang, ibu tak pernah gentar, terus berusaha dan berusaha terus. Memang ibuku wanita tangguh.

            Rumah yang sedang kami tempati ini adalah rumah nenek. Nenek sering sekali banyak memberikan ispirasi dalam perjalanan kehidupan kelak. Yang paling aku ingat dari sosok nenekku ini adalah ajaran-ajarannya yang kuat membumi. Setiap petuah-petuahnya sangatlah berisi dan patut diperhitungkan. Meski tak pernah mengenyam pendidikan, nenek bukanlah orang yang bodoh dan tak punya pengetahuan. Nenekku seperti sosok Buya Hamka atau Agus Salim yang cerdas, dan patut diperhitungkan. Nenekku sang pembelajar otodidak yang mahir, arif, dan bijaksana. Sampai saat ini aku tak pernah lupa akan pesan-pesan spiritualnya, pesan-pesan yang cukup kuat memengaruhi kehidupanku kelak.

            “Man Jadda Wajadda,” ini kata-kata yang terus ia lantunkan setiap kali membuka lembaran kehidupan. Pagi hari setelah shalat subuh, biasanya nenek memanggil cucunya, termasuk aku. Lalu ia mulai melantunkan ungkapan itu dengan nada yang indah sekali, suaranya merdu-merdu sekali. Aku baru tahu arti ungkapannya itu ketika aku mampu baca tulis arab yang diajarkan Ustad Sofyan. Artinya kurang lebih seperti ini: Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Pantas saja ketika mengucapkan pepatah itu, nenekku bersemangat, matanya penuh optimis, bibirnya berseru, otot-otot tangannya mengenggem kuat, seperti tentara kaum muslimin dibawah pimpinan Rasulullah SAW berjihad untuk menaklukkan kaum kafir Quraysi.

            Kami pun tak tahu apa-apa. Yang ada dalam benak kami waktu itu adalah kami harus hidup jadi orang mulia. Karena, kami mengartikan ungkapan nenek sesuai dengan gaya patritosme empat lima itu. Kami yakin sekali, nenek menginginkan cucunya kelak menjadi orang-orang hebat seperti halnya tokoh proklamasi Negara ini. Yang paling membuat kami takjub, meski sudah beranjak umur tujuh puluh dua tahun, tapi nenek tetap terlihat tegar. Mungkin karena kebiasaan shalat tahajud, shalat dhuha, dan shalat lima waktu yang tak pernah absen. Meski sudah tua, tak jua membuatnya patah arang untuk mendekatkan diri kepada sang khalik.

            Pernah suatu waktu aku memberanikan bertanya pada beliau, “Apa nenek nggak kecapean, dirikan shalat di tengah malam? Mending tidur, untuk kesehatan nenek.”

            Nenek justru menjawabnya dengan penuh kelembutan, “Cucuku, shalat itu untuk kesehatan tubuh dari Allah.”

            Jawaban ini baru aku pahami setelah aku kuliah dan membaca buku terapi shalat tahajud buah tangan Muhammad shaleh. Ia memaparkan dengan sangat runtun, sistematis, dan ilmiah bahwa shalat tahajud itu membawakan manfaat kesehatan.

            Nenekku yang tak pernah mengecam pendidikan kesehatan, bahkan tak bisa menulis huruf latin, sudah mempercayai akan dampak shalat bagi kesehatan. Padahal, saat itu, belum banyak buku-buku pembuktian ilmiah keterkaitan antara shalat dengan kesehatan penikmatnya.

 

 

3 thoughts on “Bagian Satu: Diam dalam Tempurung (2)

  1. pitasari berkata:

    ternyata temanku ini sudah mulai merambah ke buku yang berbeda

    tapi teteep..
    dengan gaya bahasa yang dwi kenal sebagai rusdin banget

    untuk sekarang dwi masih lum bisa seperti rusdin
    yang mampu menuangkan pikiran dalam tulisan

    tapi dwi akan berusaha
    entah sampai berapa tahun ke depan,.. dwi akan mencoba itu

    tapi kayaknya temanya bakal jauh banget dengan tema-temanya rusdin deh

    ya dah pren
    good luck

    nora ono barang mokal yen gusti ngersakne

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s