Bagian Satu: Diam Dalam Tempurung (1)

 

Pagi itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di kursi panjang, tepat disamping ibuku, di depan gubuk kami. Sebatang pohon Serkaya meneduhi kami berdua. Tiupan angin timur yang menduru-deru seperti menjadi kunci saksi atas peristiwa yang baru saja membangunkan sang surya dari sarangnya.

 Ibuku tersenyum. Jari-jari tangannya yang kekar, lembut, dan dengan kasih sayang yang tak terhingga banyaknya mulai mendekamku erat-erat, seolah-olah tak mau melepaskan kepergianku kelak, sambil meneteskan air matanya. Aku tak paham masalah apa yang sedang membara dalam benak dan hati ibu. Rawut wajahnya seolah-olah memberikan pesan yang tak mudah untuk aku terkah, tak mudah untuk menggambarkan gejolak apa yang sedang melanda wanita yang penuh kasih ini. Ibu tetap saja tersenyum, meneteskan air mata kasihnya itu sambil sesekali mengelus-ngelus rambut ikalku ini.

Air matanya deras sekali seperti oase di tengah gurun pasir yang menggembirakan bagi para musafir. Hari ini rasanya pertama kali aku menyaksikan dengan segenap jiwaku akan tangisan seorang wanita yang telah berjuang keras melahirkan aku di atas peradapan dunia nan fana ini. Hari ini pula ibu melepaskanku untuk pergi menginggalkan rumah, hijrah tinggal di rumah orang lain, tepatnya dirumah guruku, pengasuhku.

“Terus terang ibu berat hati melepaskanmu nak, tapi apalah daya ibu tak mampu membahagiakanmu. Ibu tak mampu memberikan yang terbaik dalam kehidupanmu, maka biarkanlah gurumu yang sudah aku percayakan untukmu mengasuhmu. Lagi pula ia sangat mencintaimu, ia sangat memertahikan akan masa depanmu. Pergilah nak untuk masa depan dan impian-impianmu.”

Tatapan ibuku tajam sekali, seperti ada kesedihan yang bercampur baur dengan optimis yang tak dapat aku pahami. Lagi-lagi, untuk pertama kalinya aku menyaksikan panorama tatapan ibu seperti ini lakasana induk elang yang terus menerus menjelajah di angkasa mencari anak-anaknya yang hilang, dan betapa tajamnya tatapan sang induk menyisir alam di bawahnya.

            Bangku ini mungkin menjadi saksi aku dan ibu, setelah tujuh tahun lamanya ayah kami meninggalkan ibu dalam kesendirian. Bahkan, aku pun tak sempat menatap wajah ayah. Ibu pernah bilang ayah pergi untuk mencari nafkah, membanting tulang untuk menopang penghasilan keluarga, memperbaiki keadaan ekonomi. Tapi, ayah tak jua kunjung kembali, sampai akhirnya aku berada dalam perut ibu, di ruang yang gelap gulita itu, ayah belum pulang dan tak ada kabar darinya. Sampai saat ibu melahirkan aku, ayah pun tak ada kabarnya, entah berada di sudut dunia yang mana. Runtuh rasanya hati ibu, di saat-saat kesengsaraan menghimpit, di saat perekonomian keluarga terjepit, justru ibu berjuang sendirian menghidupi kami, termasuk diriku ini. Maka aku tak sampai hati memandang raut wajahnya.

            “Kasihan ibuku…”

            Ditengah-tengah wanita lain mendapatkan kasih sayang sang suaminya, justru ibuku harus sanggup menerima kenyataan yang pahit ini, laksana seorang bidadari yang ditinggal pergi begitu saja oleh pangeran, tanpa alasan kuat, tanpa sebab yang berarti.

            “Barangkali aku harus menerima kenyataan pahit ibuku itu, dan memetik segudang hikmah dibalik semua itu. Bukankah Allah selalu memberikan banyak sekali percikan-percikan hikmah dalam setiap derap langkah perjuangan hidup ini? lalu, kenapa kita tak mau sesegera mungkin memetik buah hikmah itu?”

            Aku kenal sekali watak ibuku yang kuat dan pantang mundur.

“Sekali melangkah haruslah tetap melangkah, jangan pernah engkau menjadi pecundang atau dicundangi.”

Kata-kata itu bukan asal terori saja, ibuku telah membuktikannya. Sewaktu aku masih kecil untuk menghidupi roda perekonomian keluarga, ibu membuka jasa jual beli. Biasanya ibu sebagai penghubung antara penyedia barang dengan pembeli. Maklumlah, waktu itu ibu belum punya modal yang memadai, bahkan jujur saja untuk menghidupi kami, ibu harus hutang sana sini.

“Tak jadi soal, usaha pun bisa dimulai dari nol besar.”

Petuah ini baru aku pahami ketika membaca buku-buku bisnis sederetan orang-orang terkenal. Satu kesimpulan yang aku petik dari membaca kisah-kisah mereka adalah memulai bisnis tidak harus punya modal besar. Modal nol besar pun bisnis bisa berjalan dengan baik.

Lagi-lagi, yang membuatku terheran-heran, ternyata ibuku yang hanya lulusan sekolah guru jaman penjajahan itu, rupaya sudah mengerti benar bahwa bisnis tak harus punya modal memadai, yang penting punya jiwa wirausaha, kemauan kuat, kepercayaan, dan kesyukuran tingkat tinggi.

Wow, betapa sosok ibu terus menerus menyuntikkan motivasi perubahan dalam arah berpikirku. Aku tak tahu, dari mana keberanian ibu untuk memulai berbisnis pada bidang yang ia tak punya pengetahuan memadai di dalamnya. Bayangkan saja seorang guru berwirausaha. Benar-benar nekad!

Tak heran di awal-awal karir bisnisnya, ibu mengalami banyak kendala. Layaknya sebuah bahtera yang diterkam oleh gulugan ombak dan badai, maka ibuku adalah bahterahnya. Hanya kuasa dan pertolongan Allah bahtera itu lolos dari terkaman maut. Begitu pun dengan ibuku, dengan doa dan usaha yang keras, ibuku terus berjuang demi menghidupi anak-anaknya.

 Masih terkenang kuat dalam benakku, ketika peristiwa berdarah kerusuhan Poso kurang lebih lima tahun silam, ibuku dalam perjalanan bisnis dari Luwuk menuju Palu, dan perjalanan itu mau tak mau harus melewati Poso. Poso salah satu daerah strategis dan merupakan jalur transit Sulawesi. Anda yang akan mengunjungi Sulawesi manapun melalui jalur darat, wajib hukumnya melewati Poso.

Saat kerusuhan itulah ibuku sedang berada di daerah poso. Betapa mencekamnya hati kami, kerusuhan yang sadis, menelan ratusan bahkan ribuan korban, dari anak tak berdosa, sampai orang lanjut usia. Danau poso dihiasai gelimpangan mayat-mayat yang boleh jadi tak tahu apa-apa. Kami khawatir ibu menjadi santapan kerusuhan itu, karena terdengar kabar beberapa penumpang bus antar propinsi harus menjalani pemeriksaan oleh masyarakat setempat.

Isunya apabila melewati daerah islam maka penumpangnya harus mengucapkan sahadat, pun sebaliknya jika melewati daerah salibis, penumpang harus mampu mengucapkan nama Tuhan Yesus. Aku tak tahu persis apa sebenarnya pemicu kerusuhan di sana. Yang jelas, masyarakatlah yang menjadi korban, kalah menang sama saja, sama-sama dirugikan.

Syukur Alhamdulillah, ibu selamat dan harus berdiam diri di Palu, ibu kota Sulawesi tengah, dalam jangka waktu yang tak dapat kami prediksi. Akhirnya, aku dan kakaku mengambil keputusan untuk lebih berhemat, persediaan makanan yang seharusnya untuk jatah tiga hari lamanya, kami perpanjang menjadi satu minggu. Dengan kata lain, kami harus berpuasa daud, sehari makan, sehari puasa. Pelajaran berikutnya yang aku petik dari kehidupan ini adalah jangan pernah mengeluh, sesulit apa pun kondisi diri kita, harus kita jalanin. Di mana ada kamuan di sudut sana pasti ada celah jalan keluar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s