YA, KARENA AKU BUKANLAH FAHRI!

Siang ini, matahari sembilan puluh derajat siku-siku tepat berada di atas permukaan bumi. Laksana bola api yang meledak-ledak, lalu menusuk siapa saja yang berani menyentuhnya. Panasnya menusuk badan sampai pori-pori siapa pun menyebabkan bau tak sedap, karena kepulan butiran keringat seperti bau neraka. Hembusan angin di rimba metropolitan Jakarta, yang disertai dengan kepulan asap kanalpot, semakin mempertebal asupan gas rumah kaca. Dan semakin mempetebal kotoran hidung orang-orang disekelilingnya. Maka, tak heran engkau menyaksikan mereka selalu melengkapi dua lubang hidung dengan masker-masker seperti hendak mendarat di bulan dengan sepeda motornya. Atau seperti petugas pembasmi nyamuk ganas penyebab demam berdarah mengendarai kendaraan beroda dua itu.

Ruang sempit berukuran 3×3 meter semakin menghimpit ruang dan waktu pergerakkan jam kehidupan yang terus berdenyut entah sampai waktu yang tak dapat terhenti. Sebuah laptop, sebuah bantal, sebuah kasur, dan papan target menggapai cita-cita hidup menghiasi ruang dan waktu di satu sisi kehidupan kamar kosanku. Aku langkahkan kakiku ini mendekati jendela mungil, tepat di depan tempat aku menjemur pakaianku, lalu mataku memandang lurus ke depan. Kira-kira dengan sudut elavasi seratus delapan puluh derajat, horizontal dengan permukaan bumi.

Aku hanyut dalam tatapan itu. Terdiam tanpa mengungkapkan sepatah dua kata. Tak ada kata-kata yang sanggup menari-nari di dalam alam bawah sadarku.

Dari sana aku dapat menyaksikan rumah-rumah masyarakat yang saling berdempet-dempetan, atapnya saling berciuman satu sama lain, berderet-deret, berbaris tak teratur, jemuran pakaian menghiasi setiap lantai dua, rumah kotak-kotak selalu saja menjadi pemandangan yang tak kalah menarik. Aku coba mencari rumah kotak-kotak yang berwarna putih, tapi tak jua aku temui. Ya,…aku baru sadar, karena ini bukan flat-nya Fahri di negeri Piramida sana. Ini hanya kosanku yang terhampar di sederetan rumah-rumah masyarakat Kebon Nanas Selatan, tepatnya rumah paling pojok, di depan bekas kontrakanku: salman camp.

Kembali pandanganku ke dalam kamar berukuran 3×3 meter ini. Tiba-tiba entah bisikkan dari mana, mataku menatap papan tergetku. Di sana tertuang undang-undang kehidupan alias targetku selama empat tahun di negeri metropolitan ini. Begini target yang tertulis: BAYAR HUTANG?, MAKAN WAJIB DUA KALI SEHARI?, HEMAT PANGKAL KAYA, HEMAT PULSA, UANG SAKU?, JODOH?….. Sengaja aku tak meneruskannya karena rasa malu yang tak terpendam lagi. Ya,…aku baru sadar, aku bukanlah Fahri yang memiliki target jelas dalam hidupnya, bahkan segala hal terkecil apapun telah teragendakan dengan sangat rapi.

Tubuhku terayun-ayun seperti terbius kesurupan. Bintik-bintik putih menghiasi tatapanku. Rupanya aku benar-benar lelah hari ini. Tanpa sadar, aku rebahkan tubuh ini. Enak, enak sekali rasanya. Subhanallah nikmat sekali. Mulutku sedikit demi sedikit mulai membuka, mengepulkan gas karbon dioksida ke angkasa, lalu berlahan-lahan mataku kian detik kian redup, kira-kira mengalami penurunan sebesar lima watt per detik. Keringatku pun tak mau kalah. Ia beraksi secepat mungkin, mengalir deras seperti mata air yang keluar dari pori-pori tanah yang lembab karena terlalu panas di dalamnya. Ia mengguyur tubuh sekucur sukma, jiwa, dan tubuhku. Kira-kira kecepatan alirannya itu sekitar 3 milimeterkubik per detik.

Sebuah dering berbunyi di ponselku, pertanda sms masuk. Padahal, mataku belum seratus persen terpejam, tapi bunyi itu seakan-akan mengingatkanku akan sesuatu yang amat penting untuk aku baca. Ternyata, sms itu bukan berasal dari nomor Maria, tapi dari nomor temanku yang menuntut aku supaya sesegera mungkin membereskan hutang-hutangku. Aku sedikit kesal. Kenapa bukan Maria yang meng-sms-ku dan memberikan senandung-senandung ayat-ayat cintanya, justru, kenapa si dia lagi yang meng-sms-ku. Sial! Aku sudah janji padanya bertemu dengannya, dan akan menjelaskan duduk perkara kenapa aku belum jua melunasi tunggakan-tunggakanku ini. Aku benar-benar lupa. Ya…aku baru sadar, karena aku bukan Fahri yang selalu mendapati sms romatis dari Maria, dan selalu menepati janji-janjinya.

Aku bangkit, optimis bahwa aku akan berhasil bernegosiasi. Berlahan-lahan aku baca buku: Bagaimana Orang Lain Melakukan Apa Yang Anda Lakukan. Bagus juga buku ini. Tak salah aku membelinya seharga lima ribu rupiah di Kwitang, tempat penjajakan buku-buku bekas dan bajakan. Pelajaran pertama yang aku petik dari buku itu: jangan coba-coba membohongi orang yang sedang Anda hadapi. Tersenyumlah, dan katakan apa adanya. Berbekal ajaran-ajaran buku itu aku semakin gagah berani seperti pejuang tahun empat puluh lima dibawah komando panglima besar Sudirman. Sebelum beranjak, aku mencari kacamataku. Tak ada kacamata hitam, tak ada tas cangklong yang selalu menemani Fahri, hanya sebuah tas ransel mini berwarna hitam bertuliskan BodyPack yang berhasil aku beli karena menuliskan sebuah novel pendek buat anak-anak. Aku ambil kacamata beningku, lalu beberapa detik kemudian tas dan kacamata bening ini sudah berada dalam posisinya. Ya….aku baru sadar, karena aku bukan Fahri yang selalu mengenakan kacamata hitamnya.

Aku buka pintu. Angin membawa panas kembali menyapa seluruh tubuhku, bulu-bulu aromaku semakin tak bergairah melangkahkan kaki ini. Bismillahi tawakaltu Allahhi walahaula walakuwwata illah billaah. Ucapku matap.

Sesampai di halaman, tak ada suara seorang Maria yang memesan dibelikan disket dari arah atas kamar kost-ku, karena memang di atas kamar kosanku tak ada lagi kamar, hanya ada genteng yang berjejer. Lagi-lagi, aku katakan karena aku bukanlah Fahri yang memiliki tetangga seorang gadis Kristen Koptik, yang menaruh hormat pada tetangganya, cantik pula, tepat di atas kamar kosannya Fahri. Tetanggaku hanya sekeluarga pemiliki kamar kosanku, yang terkadang aku sering sekali berinteraksi dengan mereka. Bahkan, aku pernah bersama-sama dengan mereka menyaksikan film ayat-ayat cinta melalui laptop mungilku ini. Pemilik kamar kosanku anaknya perempuan semua dan cantik-catik. Sayangnya, usia mereka yang paling tua baru berusia sepuluh tahun.

Teriknya matahari kian membakar bumi, menyala terang sekali, menghembuskan bola api yang kian hari panasnya semakin bertambah. Kata orang ahli bumi inilah yang dinamakan pemanasan global akibat dari menipisnya kandungan ozon, zat pelindung sang bumi. Dan semua itu akibat dari berlebihnya gas-gas rumah kaca yang bermain-main di atas langit sana. Adzan zuhur bersahut-sahut di sudut ibu kota yang terkenal dengan kemacetannya ini. Sampai di depan kampus yang bervisimisikan membangun data yang berkualitas, aku menyempatkan waktu shalat zuhur berjamaah. Untung saja, di sini aku dapati syekh muda yang berdiri tegap memimpin shalat berjamaah. Jenggotnya lebat sekali menunjukkan akan kepahamannya terhadap sunnah Nabi. Aku mendekat dan menatap wajahnya. Ia tersenyum.

Usai berjamaah, aku menuju halte depan kampus dan menunggu sebuah metromini yang akan menerbangkanku ke tempat yang akan aku tuju. Tidak ada metro dan seorang kapten penunggu karcisnya, yang ada hanya sebuah kopaja tua yang sudah tak layak lagi, warnanya hijau sawo matang karena karatan. Hanya seorang bapak tua berkumis lebat yang mendekati kami, lalu mulai meminta tagihan atas jasa angkutan kota itu sambil membunyi-bunyikan uang recehan. Aku sadar betul ini semua. Ya…karena ini bukan Mesir dan aku bukanlah Fahri, murid syekh Usman.

Di dalam kopaja, tak aku temui tiga orang bule berkebangsaan Amerika masuk ke dalam. Hanya tiga orang pengamen yang membawakan lagu Ayat-Ayat Cinta, silih berganti ketiganya bersahut-sahutan, menambah pemandangan semakin panas saja. Gitar dan drum menari-menari di dalam kopaja, lalu masuk memenuhi telingaku. Beberapa saat ketiga pengamen itu terjun bebas, melompat keluar dan sesegera mungkin mencari mangsa di kopaja berikutnya. Aku sadar sesadar-sadarnya ini INDONESIA, I am in my country. I am not Fahri.

Selang beberapa menit, seorang akhwat menerobos masuk ke dalam kopaja tanpa senyum dan segera mungkin memenuhi tempat duduk yang sedari tadi kosong. Di sampingnya seorang nenek tua yang sedang termenung dan tersenyum menyambut kehadirannya. Jilbabnya merah muda, kulitnya putih, putih sekali seperti pemeran Aisyah dalam film fenomenal garapan sutradara Hanung yang diangkat dari novel megabestseller karya Kang Abik. Tiba-tiba, entah kenapa ia bergeser dan duduk disampingku, meninggalkan nenek tua itu dalam kesendirian. Baru aku sadari nenek tua itu terlalu gemuk, dan memerlukan dua tempat duduk sekaligus supaya tetap nyaman. Sekarang akhwat berjilbab merah muda dan berwajah artis itu berada disampingku. Ia diam saja. Tak ada perkataan yang fasih dalam berbahasa Jerman atau Inggris, tak ada hafalan surah Maryam, tak ada perkenalan sedikit pun. Senyum pun tak ada. Membisu sepi seperti kuburan. Beberapa menit kemudian ia pun menghentikan kopaja, lalu pergi meninggalkanku kesepian. Ya…sekali lagi kawan aku beritahukan, aku bukanlah Fahri yang bertemu Maria dalam perjalanan pulang dalam Metro, lalu Maria menyapa, memperkenalkan diri dengan santun, dan mengalunkan surah Maryam.

Selama dalam perjalanan sepanjang Otista 64 C menuju TIM, tak ada mahasiswa yang mengalunkan al-Qur’an atau mengulang-ngulang hafalannya. Tak ada Maria, tak ada Aisyah, tak ada Naurah. Yang ada hanya bunyi klakson mobil dan segelintir penumpang yang asyik berbicara dengan teman melalui sebuah handphone. Aku pun terdiam menyaksikan pemandangan yang tiap harinya aku jalani.

Sesampai ditempat tujuan, aku coba menemui temanku dan mencoba untuk memberikan keyakinan padanya akan ketidaktepatan aku menyelesaikan hutang-hutangku. Waktu pun berlalu. Sampai akhirnya aku pun kembali ke dalam kamar berukuran 3×3 meter, dalam ruang dan dekapan sang waktu. Aku nyalakan laptop mungilku, dan beberapa detik kemudian jari-jariku mulai menyisir tust-tust papan keyboard, melompat-lompat dari satu huruf ke huruf yang lainnya, menuliskan semua yang aku rasakan hari ini.

Sobat, begitulah cerita kehidupanku. Aku bukanlah Fahri yang punya semangat tinggi menuntut ilmu akhirat, sampai dalam keadaan terik pun ia berani hadapi demi menimba ilmu pada syekh Ustman. Aku kadang hanya menghabiskan hidupku di atas kasur seukuran tubuhku, bermain game, dan melakukan berbagai kegiatan yang tak ada manfaatnya.

Maka, sobatku, sudah saatnya kita meneladani kebaikan dari siapa pun itu, baik kebaikan dan perjuangan Fahri yang semangat sekali menghafal al-Qur’an, menuntut ilmu, belajar giat, bersosialisasi dengan tetangganya. Pendek kata, ambil sisi positifnya, tanggalkan sisi negatifnya.

7 thoughts on “YA, KARENA AKU BUKANLAH FAHRI!

  1. jUsTbEibH,. berkata:

    niCe sToRy.,
    sO rEaL.,gA dBuaT2,.
    Tp,eMh,,mSh ad kTa2 yG gA sHrusx t’uLaNg kAk,.hE2,.
    tTp sMgt y kAk,!=)

  2. fadliyanto berkata:

    hmm….
    betul-betul bukan Fahri…
    sama kayak saya, yang bukan Fahri juga bukan Rusdin S. Rauf…
    makasih atas pelajarannya ‘menjadi diri sendiri’,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s