Fenomena Ayat-Ayat Cinta Vs Fitna

“Benar-benar menakjubkan, mengagumkan, dan memesona.” Begitulah penuturan sebagian penonton setelah menyaksikan film yang diangkat dari novel bestseller Ayat-Ayat Cinta karya Kang Abik—sapaan Habiburrahman El Shirazy. Pasalnya, sebagian penonton hanyut dalam cerita Kang Abik, lalu tanpa sadar isak tangis pun tak tertahankan lagi. Sungguh Ayat-Ayat Cinta telah memberikan kepuasan tersendiri bagi penikmatnya. Tak heran film ini sukses menyedot perhatian publik. Faktanya, Ayat-Ayat Cinta mampu “menyihir” sebanyak 3 juta lebih orang dalam waktu satu bulan lebih. Fantastik! Presiden, wakil presiden, dan duta besar negara pun turut terpesona menyaksikannya.

Di tengah-tengah naik daunnya film-film berbau horor dan seks, justru Ayat-Ayat Cinta mampu menunjukkan “kejayaannya”. Film ini mengisahkan akan cinta damai, persahabatan, saling pengertian dalam nuansa kehidupan beragama. Bukan itu saja, Kang Abik memperkenalkan Islam sebagai agama yang toleran, dan cinta akan perdamaian, jauh dari mencemoh apalagi merendahkan pihak (agama) mana pun. Bahkan, Ayat-Ayat Cinta garapan sutradara Hanung Bramantyo ini juga ditonton oleh orang berlatar belakang nonislam. Jarang sekali film bernuansa Islam di negeri ini yang mendapat tempat dihati kalangan nonislam. Kang Abik telah menunjukkan kepada khayalak ramai bahwa Islam itu indah dan mengedapankan sisi-sisi kemanusiaan. Islam itu jauh dari kekerasan dan tindakan anarkis seperti membunuh, melecehakan, dan sebagainya.

Ketika Ayat-Ayat Cinta menunjukkan sisi kedamaian Islam, justru di Eropa Islam digambarkan sebagai agama kekerasan. Melalui film Fitna garapan Geert Wilders, Islam dicemoh, dituding sebagai agama yang “haus” akan pembunuhan, dan agama yang tak kenal toleran. Fitna lahir sebagai pengungkapan emosional Wilders karena melihat kekalahannya. Wilders tak rela umat Islam berkembang pesat diberbagai belahan dunia saat ini.

Lahirnya Fitna, tanpa sadar, telah mencemarkan nama baik Wilders sendiri seperti layaknya senjata makan tuan. Film karyanya itu justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Faktanya, sebagian Negara-negara Asia maupun Eropa melarang keras pemutaran Fitna. Fitna telah memicu kemarahan umat beragama, bukan Islam saja, bahkan kaum diluar Islam pun menyatakan ketidaksetujuan mereka akan beredarnya Fitna. Fitna telah memfitnah umat Islam. fitna (h) lebih kejam daripada pembunuhan (al-Qur’an). Wilders telah melakukan kebebasan berekspresi yang melanggar hak asasi dan keyakinan orang. Ini termasuk pelanggaran yang fatal dan patut diadili.

Tak heran umat Islam harus segera menyikapi pelecehan ini. Di Malaysia banyak sudah produk-produk Belanda diboikot, bahkan di negeri kita sendiri, presiden pun langsung angkat bicara. Pasalnya, melecehkan agama adalah perihal yang amat sensitif. Namun, semua upaya pembelaan umat Islam (termasuk Negara-negara Islam) tetaplah dalam rel kedamaian. Wilders belumlah memahami Islam dengan baik. Mudah-mudahan dengan peristiwa ini menyadarkan Wilders akan kekeliruannya. Tak menutup kemungkinan, Wilders menjadi sadar dan tertarik dengan Islam.

Kita doakan mudah-mudahan Allah SWT. membukakan hati Wilders dan segera memohon maaf kepada umat Islam. “Ya, Allah sesungguhnya mereka belumlah mengetahui, maka tunjukkanlah kepada mereka akan kebenaran agama-Mu ini,” doa Rasulullah Saw..

6 thoughts on “Fenomena Ayat-Ayat Cinta Vs Fitna

  1. mataharimerahhati berkata:

    tapi buatku, film ini (AAC) adalah penggambaran eksplisit tentang patriarki.
    mengagumkan memang, karena bisa ditonton sampai 3 juta orang (skor terakhirnya 4 juta). tapi kemungkinan lain dari banyaknya penonton adalah: 1. bukunya sudah lebih dulu laris, yang membaca dan suka bukunya mungkin akan menonton filmnya. 2. film ini mengabulkan impian orang tentang sebuah dunia yang nggak eksis. yang nggak ada. yang hampir mustahil ada. teori ini berlaku sama untuk Harry Potter. bedanya, yang satu bicara Hogwart, yang satu bicara tentang kekayaan, kecantikan, kesalehan, dan cadar dalam satu waktu. kita suka kalau mimpi kita diservis.

    film adalah dunia yang lain. refleksi filmmaker terhadap dunia yang dia hadapi setiap hari. apa yang biasanya mereka buat adalah apa yang mereka impikan atau harapkan atau refleksikan. kamu juga menulis novel dengan cara ini, kan? kalo kamu tulis apa adanya, tentang kamu, nggak akan ada orang yang mau baca. termasuk untuk Laskar Pelangi. ada unsur dramatisasi, poles sana sini. termasuk pengurangan atau pelebihan. tidak ada yang benar-benar benar karena kebenaran sendiri adalah asimtot terhadap KEBENARAN (ini kebenaran versi Allah).

    Kang Abik pun memperkenalkan Islam sebagai agama yang “tidak luas”, aku kehabisan istilah. hanya berputar antara cinta, ta’aruf, poligami (apapun alasannya), belajar ngaji (dalam penggambaran sempit). ditambah ini si Mesir pula! ini jadi trend banget di FLP. HAMKA juga menulis tentang Islam, tapi dengan cara yang beda. novelnya tidak mengedepankan icon dan simbol, tapi lebih ke meaning, makna, dalam dan terasa hangat. makanya dia nggak pernah mati (karyanya, maksudku).

    aku suka novelnya… tapi cuma bab satu. aku baca sampai 3 kali! itu keren banget. mirip kayak tulisannya Karl May! bisa menggambarkan imaji lewat kata sampai-sampai aku bisa merasakan panasnya Mesir. sisanya… hmmm.

    pesatnya perkembanga Islam si mana-mana, termasuk Amerika, ternyata tidak diimbangi oleh maintenance-nya. sama kayak bikin software, abis bikin nggak diliat-liat lagi bug-nya. walaupun di Amerika sana 10 orang masuk Islam tiap hari, tapi 6 dari mereka akan keluar lagi. coba baca bukunya Prof. Lang tentang hal ini.

    buatku, film ini masih bicara luarnya saja. nggak mendalam. memberi utopia yang bikin mabuk. tapi camera-nya oke. aku suka Pao (Fauzan Rizal).

    Allah menyuruh IQRO! (bacalah!). bukan baca sembarang baca; bacalah dengan nama Tuhanmu. sekarang kita nyaris berhenti “membaca”. yang kita lakukan adalah mengagumi apa yang jadi konsensus. tidak lagi mempertanyakan. dan, AAC tidak menyisakan ruang untuk membaca, apalagi mempertanyakan.

    yayaya… gitulah kira-kira. ini bahan staseku. jadi aku lagi nyari tahu tentang fenomena ini.🙂

  2. tapak merah berkata:

    ayat-ayat cinta? judul itu mau tak mau membuat sy teringat ayat-ayat setannya salman rushdie dan ayat-ayat apinya sapardi. besok, akan ada ayat-ayat apalagi? he he.

  3. mataharimerahhati berkata:

    Mas Tapak, ayat-ayat apinya sapardi menurutku lebih keren. ada satu puisi yang aku suka di sana: Akik.

    “ayat-ayat” itu udah jadi hegemoni, Mas Tapak. bikinlah counter-hegemony-nya. kalo pake “ayat-ayat” mudah-mudahan laku.

    Mas Tapak nggak tertarik menangin buku dari Rusdin?

    Rusdin:
    hey kamu! katanya mau nraktir. ayo bantui cari dana buat sekolah te-ka yang waktu itu aku ceritain. susah banget ngubungin kamu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s