Ya…Ukhti Terimalah Lamaranku ini Ya….

Ya…Ukhti Terimalah Lamaranku ini Ya….Masa-masa menantikan sebuah jawaban cinta dari seorang gadis memang cukup menggetarkan seluruh pori-pori sukmaku. Anda juga begitu kan? Iya kan? Ya, sudahlah. Jujur, aku tak pernah merasakan getaran yang sekeras ini. Aku tak bohong. Ini fakta lho…Usiaku menjelang 23 tahun, dan sampai saat ini aku belum pernah merasakan getir surgawi cinta sang gadis. Getaran-getaran cinta itu seolah-olah tak pernah mampir dan ngetem dalam hidupku. Mungkin Anda akan mengatakan aku ini berbohong. Tak apalah! Yakinlah aku ini serius lho…            Ombak yang menggulung-gulung, lalu menghantamku,sampai aku terjatuh tak sanggup bangun kembali. Ombak itu datang lagi, bahkan lebih deras terjangannya menampar aku. Lalu, aku terseret-seret. Dan rasa sakitnya bukan main kepalang. Begitulah cinta yang sekarang sedang menerjang sukma batinku. Kian hari, ia terus menerus meracuni mata hatiku ini. apakah ini yang orang bilang kepayangan asmara cinta itu? Aku tak tahu. Aku tak pernah mengenal apa itu cinta. Serius!         

   Sudah hampir empat tahun lamanya, aku kesepian. Justru, dalam kesepian itu aku sangat menikmatinya. Aku bebas ke mana saja, tanpa ada yang membatasinya, seperti angin yang berhembus. Berhembus kemana pun yang ia mau. Kadang ia berhembus ke atas menerjang awan-awan di atas sana, kadang ia berputar-putar memecahkan gelombang lautan, kadang pula ia lembut sekali, bertiup enak sekali.             Akhir-akhir ini, aku tak lagi menjadi sang angin. Sudah banyak waktuku dalam kesendirian. Kesepian seorang diri. Kesepian tak ada yang menemani. Yang terakhir ini mungkin lantunan sebauah lagu. Tapi, jujur, benar-benar jujur, hidup dalam kesepian tak selamanya nikmat, tak selamanya menyenangankan, tak selamanya membahagiakan.           

  “Bersahabatlah dan carilah pasangan hidupmu,” mungkin seperti itulah peasan sang burung merapati yang sedang asyik-asyiknya bercengkrama dengan pasangannya. Aku malu pada burung-burung itu. Mereka lebih mengerti apa makna cinta. Mereka lebih paham apa itu kasih sayang. Sedangkan aku hanya jadi penonton burung-burung itu. “Kasihan deh lo…!” burung-burung itu terbang berhamburan meninggalkanku dalam sepi, senyap, dan sunyi.          

  Tiga tahun yang lalu, aku memang pernah tak sendirian. Sebagai seorang perantauan, aku sempatkan diri berafiliasi dengan teman-teman yang lain. Atas inisiatif beberapa teman, kami pun mengontrak sebuah rumah. Lumayan, disamping lebih menghemat keuangan, aku pun bisa saling berbagi, bercanda, dan bercerita dengan teman-temanku itu. Total sepuluh kepala menempati rumah yang lumayan tak terlalu kecil. Minimal cukuplah sebagai tempat pelepas lelah seusai kuliah. Tiga tahun akau arungi kehidupan bersama mereka.           

  Syukurlah…tiap kamar dihuni dua orang. Lima kamar. Cukup. Meski kita harus sabar berbagi tempat tidur. Apalagi kemauan masing-masing kepala itu beragam. Pantas saja manusia selalu dijuluki si pemakan segalanya. Kalau engkau masuk ke dalam kontrakanku, akan kau dapati beragam gaya hidup seseorang. Tak usah jauh-jauh. Dari kebiasaan tidur seseorang punya banyak bedanya lho. Dari yang tidur wajib lampu kamar mati, tak boleh dinyalakan. Ada juga seperti kelelawar, mau tidur kalau lampu kamar tetap nyala. Bagaimana dengan gaya tidur? Oh, tak diragukan lagi, lebih heboh beragamnya. Mau tahu?             Ada yang tidur sambil bernyanyi. Mata sudah terpejam, tapi suara merdunya tetap saja mengalun merdu…merdu sekali. Aku yakin…yakin sekali pencuri tak mau masuk lantaran suaranya ini. syukurlah. Setidaknya setiap malamnya ada satpam super otomatis. Tidur sambil jaga malam dengan suaranya itu lho. Ada juga yang sudah terlelap pulas, tapi kelopak matanya masih saja terbelalak. Wah, yang satu ini cukup geli juga. Kadang aku tertawa dalam hati dan takjub. Kok bisa ya…Pernah aku kecolongan. Aku mengira orang yang tidur seperti ini masih terjaga. Ceritanya begini.        

    Waktu itu itu, aku asik ngobrol dengannya. Kami bercerita tentang cinta. Lagi-lagi, dasar anak muda, kalau bercerita soal cinta kadang kala lupa waktu, lupa makan, dan lupa segala-galanya. Seolah-olah dunia ini miliknya saja. Kami mulai bercakap-cakap. Saling berargumentasi. Saling membenarkan. Saling berdebat. dan, yang tak kalah serunya saling melantunkan puisi ciptaan masing-masing yang akan dibacakan di depan kekasihnya. Satu jam pun berlalu. Aku meneruskan ceritaku yang begitu asyik menurutku. Tapi, apa yang terjadi, ternyata ia telah tertidur lelap, sambil mengendengarkan pengalaman dan harapan-harapanku. Dasar. Pasalahnya, matanya itu. Meski sudah terlelap, matanya tetap membuka. Aku baru tahu ketika ia mengeluarkan suara pertanda betapa nikmatnya tidur. Aku benar-benar kena tipu.        

    Sekarang, di tahun ke empat, masa-masa terakhir aku menyelesaikan kuliah, aku lebih memilih ngekos. Artinya aku harus hidup dalam kesendirian, seorang diri. Sengaja, aku pilih tempat yang paling sepi. Alhamdulillah, aku temui tempat yang nyaman. Sebuah rumah yang dihuni oleh beberapa anggota rumah tangga. Ada anak-anaknya yang sudah berumah tangga. Sedangkan aku diberikan sebuah kamar di lantai dua.           

  Mulailah aku hidup dalam kesendirian. Setiap malamnya, tak ada lagi suara teman-temanku. Hanya aku. Setipa malamnya, akau tatap langit hitam. Kadang hanya satu dua bintang-bintang yang tampak. Mungkin, karena saking banyaknya polusi di kota ini. Kesepian dan sungguh sepi.             

 Dalam keadaan seperti itulah, seolah-olah aku harus butuh seorang yang mampu memberikan arti dalam hidupku ini. Aku butuh seorang pendamping yang siap memberikan nasihat, kasih sayang, saling mengisi dan saling berbagi. Tapi, itu hanya angan-angan belaka saja. Karena aku tak mau menembak seorang akhwat satu pun.            

 Akhir-akhir ini, memang sih, ada seorang akhwat yang menggoda perhatianku. Menggoda karena tingkah lakunya yang begitu menyejukkan mata. Menggoda karena sopan santun dan gaya tutur katanya itu lho yang buat aku semakin dan semakin mengidam-idamkannya. Apakah aku salah?           

Sampai-sampai, aku ingin sekali memberanikan diri menembaknya, mengatakan cinta dengan segenap keberanianku ini. Tapi, lagi-lagi aku tak mau menggantungkan seorang akhwat. Aku tak mau mengutarakan kata cinta, padahal aku belum siap mempersuntingnya.            

 “Siapa sih yang menolak tembakkanmu? Sudah tanpan, pintar, dan punya uang. Pasti akhwat itu rugi kalo menolakmu. Aku yakin sekali ia menerimamu” kata seorang teman dekatku.          

  Masalahnya adalah terlalu banyak ikhwan-ikhwan lain yang mengejar-ngejarnya. Bahkan, ikhwan-ikhwan itu lebih potensial. Ya, ikhwan-ikhwan itu lebih alim, lebih berwawasan keislaman, lebih punya girah dakwah yang menjulang tinggi. Tampang mereka seperti ustad, ikut liqo di mana-mana, membela palestina, dan lain sebagainya. Sedangkan aku. Ya, aku hanya seorang laki-laki biasa, hafalan Qur’an pas-pasan “Qulhuwallahu ahad” dan ayat pendek lainnya. Paling-paling aku hafal seratus empat belas surat, eh, sory, maksudku surat ke seratus empat belas. Anda tahu kan surat apa yang aku maksud itu?         

   Sudahlah, peluangku memang sangat sedikit. Apalagi setelah aku mendengar ungkapan seorang kawan, “Wah….ia masih menilaimu belum positif. Pasalnya, selama ini kamu sangat ‘cair’ dengan teman akhwat lainnya”            Kata-kata yang sangat halus dan langsung menerjang ke dalam lubuk hatiku. Anda tahu apa maksud ‘cair’? Ya, memang begitulah aku. Setiap orang, tak kenal akhwat atau pun ikhwan aku selalu bersikap ‘cair’. Aku menerima mereka sebagaimana Rasulullah menerima sahabatnya. Tak kenal laki atau perempuan. Bukankah Rasulullah juga bersikap ‘cair’ kepada sahabat-sahabatnya? Yang penting bagiku, harus ada batasan-batasan antara aku dengan para akhwat yang sering kali berinteraksi dengan diriku. Bukankah dengan beinteraksi dengan mereka berarti aku menghoramtinya?             Memang, aku akui, aku berbeda dengan teman ikhwan lainnya. Yang begitu sangat membatasi pergaulan mereka dengan akhwat. Berbicara saja dengan akhwat harus menggunakan suara yang keras. Mata tertunduk. Jarak berjauhan. Pake hijab, dan lain sebagainya.  Aku tak sampai seperti itu. Aku pun seorang ikhwan. Tapi, aku ingin memberlakukan sang akhwat pada posisinya. Sehingga, setiap kali berbicara dengan mereka aku menggunakan kata-kata yang merdu, sopan, dan enak didengar. Karena aku menghargai mereka. Aku tak mau bersuara keras. Aku tak mau!         

   “Cobalah ta’aruf?” Pintah temanku.           

Taaruf! Bukannya aku tak mau bertaruf itu. Bukan! Masalahnya kebanyakan ta’aruf harus melewati murabbi. Ini dia yang menjadi salah satu ketidak enakkan dalam bathinku. Bukankah masalah jodoh ada ditangan Allah? Bukankah lebih baik kita langsung menanyakan kepada sang akhwat? Bukankah lebih baik juga kita langsung melamarnya melalui orang taunya? Kenapa mesti melewati sang murabbi?             Justru, melewati sang murabbi, menurutku telah mengurangi kejantananku sebagai seorang ihkwan. Kalau benar-benar aku berniat menikahi sang akhwat kenapa harus takut mengajukan proposal ke hadapan orang tuanya. Bahkan kenapa tidak kita taaruf di depan orang tua si akhwat. Kenapa meski takut? Bukankah Al-Qur’an mengajarkan kita supaya takut hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain?  Lalu, kenapa kita masih saja takut?              …….(bersambunng)

32 thoughts on “Ya…Ukhti Terimalah Lamaranku ini Ya….

  1. lyhulliey berkata:

    Assalammualaikun Kak..
    Ku doain semoga dapet yg terbaik ya,,
    Semangat!
    Perempuan yg baik untuk laki2 yg baik pula,
    Jangan lupa undangannya, hwehehe…

  2. lyhulliey berkata:

    Haduhh, itu novel ya? Yah,, kirain beneran..
    hwehehe..
    Btw,
    aku ga pernah selesai kalo bikin cerpen,
    pasti buntu
    huhhh…

  3. arifah berkata:

    tenang aja…insyaAlloh dapat yang terbaik kok. Klo menurutku ni, terkadang emang merasa sedih kalo sendiri, tapi mungkin lebih banyak hal yang bisa dilakukan dalam kesendirian itu. yap! hal2 yang lebih berguna dan juga bermanfaan…he..he..(sok bijak he..he..)

  4. ARI berkata:

    jangan lupa istikhorah yach !!! kang.Rusdin kalo kepengin ketemu ama pujaan hati ntar Allah pasti akan tujukkan jalannya

  5. FaJaR_sAnToSo_pUtRa berkata:

    Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh
    Din…begitu bertamu lagi ke blog ini, aq bingung lho…
    koq mataku ini langsung menangkap barisan kata-kata yang seperti sebuah pengharapan penuh kejujuran… (wess, tinggi bener…)
    walaupun cover tahajud itu juga cukup menyita perhatian…
    dasar FaJaR nih…he…he…he…

    Din, ini ungkapan hati yang mau kamu transfer dalam tulisan atau sebuah fiksi aja? tapi jujur ya, aq nangkepnya siy sebuah penulisan dari kisahnya Rusdin…
    usia 23
    kontrakan
    sekarang ngekos…
    udah jujur aja…

    tentang perasaan, jangan dipendam…ungkapin aja, tapi dengan cara yang islami….Khitbah!
    =>

    aq inget Ustadz q pernah cerita,
    Suatu ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasul, aq mempunyai perasaan terhadap fulanah binti fulan. apa yang harus aq lakukan?”
    Rasulullah saw nanya sama sahabat itu, “apakah dia (fulanah binti fulan) mengetahuinya?”.
    “tidak Ya Rasul.” jawab sahabat
    terus Rasulullah saw bilang sama sahabat itu “pergilah ke tempatnya, katakan pada dia perasaanmu itu!”.

    mungkin kalo nelaahnya secara sempit, bisa aja kan kita beranggapan Rasulullah saw menyuruh sahabat itu untuk “nembak” si fulanah itu.
    tapi, ternyata ada makna lain yang lebih indah daripada sekedar nembak. maksud Rasulullah saw itu adalah agar sahabat itu melamar si fulanah. indah banget kan…

    Rasulullah saw aja nyaranin kaya gitu, ungkapin… dengan penuh keindahan dengan penuh penghormatan kepada seseorang yang kita cintai itu…

    itu kata ustadz q lho…

    maaf ya klo FaJaR ni banyakan sok taunya… he..he..he..
    btw, itu aja dulu deh… maaf ya kalo kata-katanya cenderung ga baku…
    ditunggu lanjutannya…

    yang benar datangnya dari ALLAH swt yang MahaBenar
    yang salah, tentunya sepenuhnya berasal dari FaJaR_sAnToSo_pUtRa

    Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

  6. rahmah berkata:

    yup..insyaAlloh ‘perempuan yg baik adalah untuk laki2 yg baik’
    intinya adalah perbaikan diri sendiri terlebih dulu..
    menanggapi masalah ikhwan ato akhwat cair, kita hrs phm t4, jgn tll kaku tp jg jgn tll cair..yg jls, hrs da pembeda ktk seorg sdh phm ttg adab pergaulan dan yg blm..,dan org lainpun phm konds kita, tnp kita ngomong k mrk. .intinya hrs ttp menjaga diri dr hal2 yg tdk diridhoi Alloh dlm sebuah hubungan ikhwan akhwat.

    Tp disini an krg sependapat dg antm..ttg peran murobbi. bhw mnrt an ckplah penting. disini bukan berarti kita tdk jantan ktk tdk lgs ke ortunya,. tp plg nggak, dg ada pihak ketiga yg bs mengontrol kita dlm bertaaruf dg calon kita. Mmg gak da keharusn melamar lwt murobbi. .tp plg nggak dg berkonsultasi dgnya, kita dpt arahan dan masukan yg berguna buat kita kedepan. pasti mr jg akn mnyerahkan keputusan akhir di tangan kita, krn kita sendiri yg akan menjalaninya.
    ingatlh bhw bisikan2 setan mdh skl masuk dlm diri, apalgi dlm hubungan smcm itu..mknya peran murobbi disini adalah u/meluruskn arh gerak kita dan lbh menjaga proses kita..
    afwan, ini hny pnpd pribadi aj.

  7. mataharimerahhati berkata:

    “Writing a good novel is hard. That’s just life. If it were easy, we’d all be writing best-selling, prize-winning fiction.”

    kamu pasti gak suka kata-kata ini. tapi itu masalahmu. masalah yang sebenaernya; kata-kata ini benar!

  8. mataharimerahhati berkata:

    “Writing a good novel is hard. That’s just life. If it were easy, we’d all be writing best-selling, prize-winning fiction.”

    kamu pasti gak suka kata-kata ini. tapi itu masalahmu. masalah yang sebenarnya; kata-kata ini benar!

  9. nita berkata:

    sepakat sama mataharimerahhati apalagi jika novel itu adalah pengalaman pribadi. tiap paragrafnya menjadi lebih hidup. apalagi tokoh dalam cerita benar2ada. surprise, seperti buku laskar pelangi

  10. rusdin berkata:

    @Nita: wah…aku jadi malu nih. Nita selam kenal ya (bukan udah kenal sejak lama?)
    @Matahari: Thanks. aku tunggu masukan berikutnya

  11. dwi berkata:

    wah…. ternyata rusdin yang selalu ceria bisa merasa sedalam ini
    udah sangat merindukan akhwat yang lemah lembut

    masih ingat dulu
    katanya mengharapkan dapat jodoh dari jawa tengah an
    yang sopan dan sabar
    agar tidak bertabrakan dengan asalny rusdin
    yang katanya keras gituu..

    hmm… siapa neh kira-kira si akhwat yang beruntung

    dwi doakan selalu dapat yang terbaik deh….
    hingga terus semakin semangat dalam berkarya

  12. laila_attigholy berkata:

    Afwan, ga sengaja lewat, trus baca tulisan ini n akhirnya Ikutan kasih comment…
    Sbnrnya sy g tau ini kisah beneran ato bukan. tapi sy cukup terkesan dg pernyataan dalam cerita itu terutama pada penggalan kisahnya yang menyatakan tekad si ikhwan untuk tdk menyatakan perasaannya sebelum benar2 siap/ di situ dibilang biar ga ada kesan akhwatnya digantung. Berarti di sini si ikhwan masih bisa menjaga hati. tapi perlu jadi catatan, ini harus te2p dipertahankan sampai saatnya tiba… Jaga hati agar tdk jatuh pada zina hati… krn inilah yang berat..
    Klo dah siap, tempuhlah cara2 yang syar’i melalui ta’aruf dan khitbah. ta’aruf ga selamanya harus melalui murobbi, asal ada perantara yang ditsiqohi agama dan akhlaknya ga jadi masalah tanpa melalui murobbi. bisa melalui ortu langsung kalo emang ortunya terjamin sdh paham benar nilai2 syar’i terkait hal ini. Insya Alloh dg menempuh cara yang bersih(syar’i.red) akan menciptakan keberkahan dalam pernikahan kelak.

    Menikah adalah pengamalan separuh agama, di sana kita bisa lebih banyak mengumpulkan pahala. Dengan menikah, fitrah manusia untuk menyalurkan syahwat dengan halal pun bisa terpenuhi. Ibadah juga lebih tenang. Rasulullah pernah bersabda : “Barang siapa menikah, maka dia telah memperoleh separuh agamanya, karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.” (Riwayat Al Hakim).

    Ishbir tsumma tawakkal illalloh…

  13. ita berkata:

    Kenapa tidak coba di lamar?klo udah siap so what.
    Dalamnya lautan bisa dikira tapi hati manusia……….
    Bisa jadi akhwat yang diidamkan justru sedang menanti-nanti. Semoga kak Rusdin mendapatkan jodoh yang terbaik.Amin

  14. Axelline berkata:

    Assalamu’alaikum

    Kak, slalu aja buntu buat nulis. Trus merasa sering capek dg kegiatan kuliah jadi kalo mau nulis bawaannya udah males aja. Blog punyaku nganggur bertahun – tahun kayaknya. Jadi malu, hehehe

  15. rusdin berkata:

    Qiyadah? presepsi Qiyadah menuru saya yaitu Rasulullah Saw. jadi, menentukan pilihan ya sesuai dengan kriteria Rasulullah: Agamanya baik dan kita tertarik dengannya.

  16. zahra berkata:

    assalamu alaikum
    lam kenal ,smaga ttap dlam kbhagian? ak yakin it adalah untaian hti mu ,suatu saat ap yg kau dambakan pasti akan kau dapati,cinta kadang datang n pergi begtu saja,kadang cinta sulit tuk dterka ,yakinlah pasangan hdup pasti akan datang ,hnya waktu n tmpat it masih rahasia allah swt..kalo kdang km mrasa ksepian it manusiawi bngt.mungkin luar sana masih bnyak yang lbh ksepian lg drimu.btw km tetp smangt …….nn pasti indah ending ya.

  17. rusdin berkata:

    walaikum salam wr.wb
    Salam kenal juga Zahra. Setujua Zahra. Pasti Allah akan mempertemukan diri kita dengan yang lebih baik. Lebih baik menurut Allah dan Rasulunya . Setuju kan?

  18. citra berkata:

    semoga ceritanya bisa bersambung dengan cerita yang lebih menarik,,,
    dapat jodoh yang terbaik,,,
    dengan niat dan jalan yang terbaik,,,
    and
    happy ending …
    n_n

  19. sandhi berkata:

    kenapa ta’aruf lewat murabbi harus menjadi tidak enak :d ?. ada banyak hal positif dalam tulisan antum diatas, tetapi ketika menyinggung kata “murabbi”, serta merta justru pandangan negatif yang muncul. kalaulah antum pernah mengalami sendiri sesuatu yang tidak “mengenakkan” akibat si murabbi..maka antum tentu bisa merenungi, belajar, dan mengambil hikmah dari peristiwa itu untuk kemudian membuat strategi baru menghadapi “dominasi” si murabbi. kalau pun ternyata antum belum mengalami sendiri..hanya dengar kanan dan kiri dsbnya, cobalah untuk tidak berprasangka terlebih dahulu. Pointnya.. murabbi juga manusia🙂, kadang salah.. tetapi banyakan bener🙂.

    Hanya sedikit saran.. jodoh itu “misteri” bagi kita tapi tidak bagi Allah. Tidak kita ketahui dari arah mana ia akan datang, mungkin lewat murabbi, mungkin lewat teman, mungkin lewat saudara dsbnya, makanya kita dituntut untuk selalu ber-positif thinking terhadap segala peluang, yang dengan itu akan mempermudah kita dipertemukan dengan jodoh yang insyaAllah baik dalam pandangan Allah. wallahu’alam.

  20. Laily berkata:

    wah adek oain dech moga cepet dapet jodoh yang solehah dunia akhirat amaen. pokoknya jangan lupa usahanya ya akhi………..

  21. Panggil aku "Bintang" berkata:

    merindukan kekasih hati, pasangan hidup yang menemani mangarungi suka duka hidup, penyejuk jiwa kl bersamanya.

    memang kesendirian melelahkan….

    Semoga setiap pembaca mendapatkan apa yg diidamkannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s