Berdebat Soal Data Kemiskinan Tak Menyelesaikan Persoalan…

    Saya senyam-senyum saja membaca sebuah surat kabar popular di negeri ini. Bukan karena membaca adegan horror, eh, sori, adegan humor, tapi membaca fenomena yang semestinya tidak perlu dibesar-besarkan. Ya, perdebatan soal data kemiskinan.             Memang benar, kata orang-orang pintar (atau sok pintar) perbedaan antara data dan sampah laksana sehelai rambut di belah tujuh. Bayangkan saja betapa tipisnya. Mungkin, Anda harus menggunakan lup dengan daya pembesar sekian kali hanya untuk melihat belahan rambut tersebut. Sangat tipis. Ini artinya, data dan sampah hampir-hampir tak dapat dibedakan lagi. itu sih kata orang-orang pintar. Mereka mengatakan seperti itu bukan karena tidak punya dasar lho. Mereka pun punya dalil yang cukup mematikan bagi lembaga-lembaga penyedia data di negeri ini. Bahkan dalilnya mendekati shahih riwayat xx. Hehehe…           

Baik. Kembali kemasalah debat mendepat perkara data kemiskinan. Perbedaan angka kemiskinan itu wajar-wajar saja. Tergantung standar yang dipakai oleh lembaga tersebut. Benar dan salah menjadi sangat abstrak di sini. Pasalnya, semua memilki dasar yang kuat, dan punya alasan. Oleh karenanya, menurut batok kepala saya, kita harus bijak menyikapi permasalahan ini. Saya yakin semua angka kemiskinan adalah benar, meski angka yang dikeluarkan masing-masing lembaga berbeda-beda. Sekali lagi, itu hal yang wajar-wajar saja. Tak perlu diperdebatkan. Apalagi dibesar-besarkan.         

   Justru, yang mesti kita pikirkan bersama, ada hal yang lebih penting, bahkan sangat fundamental. Mencari solusi penyelesaian masalah kemisikinan itulah yang patut kita berfokus ke sana. Saya yakin sekali, lembaga penyedia data manapun sepakat mengatakan bahwa kemiskinan di negeri ini cukup banyak (definisi banyak ya saya persilahkan pada masing-masing lembaga tersebut). Yang miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya. Namun, apa boleh di kata, rupanya, orang-orang pintar (mengaku pintar) di negeri ini lebih senang berdebat untuk masalah-masalah yang tidak terlalu fundamental.           

  Jadi, apa yang perlu kita pikirkan saat ini (tentu yang paling mendasar)?           

Saya yakin setiap lembaga pengumpul data, besar kemungkinan, dapat mengidentifikasi penyebab kemiskinan, maupun permasalahan yang sedang dihadapi oleh orang miskin. Identifikasi baik-baik akar permasalahan orang miskin di negeri ini, lalu berlomba-lombalah memberikan masukkan pada pemerintah. Dengan begitu, kita terlihat lebih care soal kemiskinan. Juga, tentunya kita lebih terlihat sebagai orang yang arif, bijaksana, dan intelektual.             

  Memang tak menutup kemungkinan dalam pemberian rekomendasi tersebut banyak perdebatan. Tak jadi soal. Perdebatan untuk masalah ini justru lebih baik, daripada perdebatan perbedaan data. Kok bisa? Ya, Iyalah. Masak sih kita mau ngasih rekomendasi pada orang miskin asal-asalan saja. Harus matang dan mendekati sempurna. Bukan begitu?           

Oh,ya, sebelum saya akhiri tulisan ini. Saya teringat dengan seorang penerima nobel kemiskinan yang asalahnya kalau nggak salah dari Pakistan. Muhammad Yusuf. Ya, siapa sih yang nggak kenal dengan nama yang satu ini? dialah yang telah menginspirasi orang miskin bangkit menjadi kaya. Bukan saja kaya harta, tapi juga kaya mental spiritual. Apa yang ia lakukan? Apakah ia mendebat soal  data? Oh, no! nggak kali! Muhammad Yusuf tak pernah meperdebatkan data. Karena ia saksikan sendiri dengan mata kelapalanya betapa banyaknya orang miskin di negaranya. Muhammad Yusuf melakukan apa yang ia bisa. Ia berikan latih orang-orang miskin, ia beri modal, dan ia semangati untuk berbisnis. Tak perlu berpanjang lebar memperbincangkan sosok Muhammad Yusuf. Jelas sudah, beliau yang secerdik itu saja tak memperdebatkan data, jutru, beliau langsung action.        

    Bagaimana menurut Anda? Patutkah orang-orang pintar di negeri ini saling memperdebarkan data kemiskina yang berbeda-beda itu? Silahkan Anda jawab.

6 thoughts on “Berdebat Soal Data Kemiskinan Tak Menyelesaikan Persoalan…

  1. tierainrie berkata:

    Angka kemiskinan ya??
    Hm.. Iya sih… itu relatif banget… Tergantung bagaimana metode pengambilan datanya, dan tujuan pengambilan datanya.
    Yah, anak STIS lebih paham lah masalah begituan.
    Setuju kalo’ yang harus disikapi adalah bagaimana pengentasannya. Statistik terkadang hanyalah sebuah bukti penguat untuk pengambilan kebijakan, tapi kl terlalu sibuk mencari bukti ya wajar saja kalo’ ketika dilihat lagi, ternyata angka kemiskinannya sudah nambah lagi. Apa namanya, em…Data Cross Sectional, yang berlaku saat itu doang…(aduh, aku ngomong apa sih…)
    Punten ya, ikutan ngerecokin blognya…he…he…

  2. tapak-merah berkata:

    patut-patut aja mas. asal ya itu, mrk sgr nyari solusi dan mengeksekusinya. to me, kemiskinan di negeri ini sudah bersifak struktural (sistemik), bukan lagi kultural. itu artinya, harus ada perubahan radikal dari sistem ekonomi yang selama ini berlakukan, yaitu kapitalisme. dan syariah islam kaffah adalah jawaban. bgmn?

  3. rusdin berkata:

    @tapak merah: Saya setuju. Hanya saja perlu adanya rumusan yang jelas dan aplikasi dari syariah islam Kaffah itu. ini tugas bersama.

  4. fikri berkata:

    ngomongnya sok pintar!!
    emang udah pernah berbuat apa sih?
    sama-sama cuma bisa komentar juga!

  5. zoelzul berkata:

    muhammad yunus kali mas,,,
    dia dari bangladesh….

    emang ada ya muhammad yusuf dari pakistan
    yang dapat nobel?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s