Kecerdasan Emosi dan Kesuksesan

Rusdin

Ternyata, penentu kebahagiaan ataupun kesuksesan seseorang tidaklah semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan logis-matematisnya. Justru, kecerdasan emosi memberikan sumbangsih cukup besar untuk kebahagiaan seseorang. Apa iya?            Ahli kecerdasan emosi, Goleman menceritakan sebuah kisah menarik mengenai hal tersebut. Mari kita menyimaknya!

            Penn seorang mahasiswa yang cemerlang dan kreatif, sesuai dengan syarat yang ditetapkan oleh Yale University. Masalah yang dihadapi oleh Penn adalah bahwa ia sadar akan keluarbiasaan dirinya. Karena itu, seperti kata seorang profesor, mahasiswa ini “luar biasa sombong.” Penn, kendati sangat hebat, tidak disukai orang lain, terutama oleh orang yang harus bekerjasama dengannya.

            Meskipun begitu, nilainya sangat mengagungkam dalam ujian-ujian tertulis. Setelah lulus, Penn menjadi incaran utama semua perusahaan. Berbagai perusahaan terkemuka dalam bidang terkait menawarinya wawancara untuk bekerja, dan ia memang yang terbaik—setidaknya kalau dilihat dari resumenya. Namun, karena keangkuhannya, hanya satu perusahaan yang menawari Penn pekerjaan. Itu pun perusahaan kelas dua.

            Matt, seorang mahasiswa Yale lain yang sejurusan dengan Penn, secara akademik tidak begitu cemerlang. Namun, ia pandai bergaul sehingga disukai oleh setiap orang yang bekerjasama dengannya. Sesudah lulus, Matt diterima bekerja oleh tujuh dari delapan perusahaan yang mewawancarainya. Matt terus sukses dalam bidangnya, sementara Penn dipecat kendati baru dua tahun bekerja di perusahaan yang pertama kali menerimanya.

            Matt memiliki kecerdasan emosi sedangkan Penn tidak (Goleman, Warking, hal.22)

             Sekali lagi, bahwa mencapai kesuksesan memang tidak semata-mata hanya mengandalkan kecerdasan intelektual. Sudah banyak dari mereka yang hanya memiliki kecerdasan intelektual, tak dapat melakukan apa-apa, justru kehidupan mereka condong tidak bahagia. Tetapi bukan berarti bahwa kecerdasan intelektual tidaklah penting. Bukan. Masalahnya adalah seberapa besar ketergantungan kita dengan kecerdasan intelektual. Semakin kita menggantungkan kehidupan ini hanya kepada kecerdasan intelektual, dan mengabaikan kecerdasan emosi, maka bisa dipastikan kehidupan kita pun akan semakin jauh dari kesuksesan. Maka selayaknya, kita tetap memberikan porsi yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi. Bahkan, sangat dianjurkan kepada kita untuk lebih mengedepankan kecerdasan emosi, karena kecerdasan inilah yang akan mengantarkan kita menuju kesuksesan hidup.           

 Keberhasilan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh indeks prestasi (IP), atau predikat lulusan terbaik dari segi akademis. Justru, mereka yang memiliki pengendalian diri, motivasi diri, tidak gampang emosional, sabar, inisiatif, besar kemungkinan untuk mencapai kehidupan sukses dan bahagia dengan lebih mudah.           

  Goleman kembali bercerita bagaimana bodohnya orang yang tidak cerdas emosi meskipun ia termasuk orang yang sangat pintar secara intelektual atau rasio. Mari kita simak bersama… 

Jason H, seorang siswa kelas dua di SMU Coral Springs, Florida. Disekolahnya, ia selalu memperoleh nilai A. Dia bercita-cita masuk fakultas Kedokteran. Bukan sekedar fakultas kedokteran biasa, ia memilih Harvard untuk melabuhkan cita-citanya. Tetapi, cita-citanya seketika kandas saat Pologruto, guru Fisikanya memberi nilai 80 pada sebuah tes. Jason tak mau menerima kenyataan itu. Pada suatu hari, ia pun datang ke sekolah dengan membawa sebilah pisau dapur ke sekolah. Ia juga bertengkar dengan guru fisikanya, Pologruto. Di dalam laboratorium fisika, ia menusuk gurunya di tulang selangka sebelum ia ditangkap dengan susah payah.

             Oh, my God! Realita yang mengerikan. Seseorang dengan kecerdasan otak yang tak diragukan, ternyata belum memiliki pengendalian emosi yang baik. Hawa nafsu dan keinginan yang tak tercapai justru membawa mereka bertindak di luar kendali. Padahal, secara rasional, mana mungkin orang berotak cerdas mau melakukan tindakan yang di luar nalar. Sungguh tidak mungkin! Tapi, inilah realita. Orang yang tidak memiliki kecerdasan emosi, dan hanya mengandalkan kecerdasan rasio saja, justru memiliki kemungkinan besar melakukan tindakan di luar kepala.            

 Coba kita perhatikan era sekarang. Di mana-mana terjadi peperangan. Alat-alat perang berteknologi tinggi menjadi bukti bahwa mereka yang berperang adalah orang-orang memiliki kecerdasan rasio. Mereka memiliki kecerdasan intelektual yang baik untuk membuat senjata, tetapi, lihat saja akibat yang ditimbulkan dari peperangan. Kematian dan kesengsaraan. Dentuman bom seakan-akan menjadi hiburan masyarakat si dunia. Satu bukti bahwa kecerdasan intelektual seseorang tanpa diimbangi kecerdasan emosi, memberikan kerugian besar.  

34 thoughts on “Kecerdasan Emosi dan Kesuksesan

  1. nita berkata:

    i am come back, sukses get out of deadline:)
    kecerdasan emosi:-?
    sepakat dg yg awal, tp untuk yg terakhir aku punya viewpoint berbeda.
    buat sejata? why not? tapi untuk apa senjata itu?ku pikir teknologi tinggi adalah karya intelektual yang bermanfaat jika digunakan dengan benar, bukankah banyak intelektual muslim yang hijrah ke Amerika walaupun dengan alasan brain drain, ku pikir semua sudah paham.
    lalu kenapa?
    jika dilihat lebih teliti, ternyata pemerintah adalah pihak yang berperan sebagai penentu digunakan untuk apa senjata tersebut. Ambil contoh AS, rezim Bush adalah penentu untuk apa senjata digunakan. AS adalah negara pengemban ideologi, jadi sudah jadi tabiatnya, apapun akan mereka lakukan untuk menjaga keberlangsungan hegemoninya di dunia. jd tidak cukup hanya dengan kecerdasan emosi. jika diibaratkan, seperti menyuruh harimau berhenti makan daging. Jadi perlu ada pemburu yang menambak mati si “harimau” untuk menghentikan keberingasannya. Dan bukankah kita telah diberi amanah oleh pemilik bumi untuk memburu si harimau🙂

  2. mataharimerahhati berkata:

    “Coba kita perhatikan era sekarang. Di mana-mana terjadi peperangan. Alat-alat perang berteknologi tinggi menjadi bukti bahwa mereka yang berperang adalah orang-orang memiliki kecerdasan rasio. Mereka memiliki kecerdasan intelektual yang baik untuk membuat senjata, tetapi, lihat saja akibat yang ditimbulkan dari peperangan. Kematian dan kesengsaraan. Dentuman bom seakan-akan menjadi hiburan masyarakat si dunia. Satu bukti bahwa kecerdasan intelektual seseorang tanpa diimbang”

    aku sengaja mengutipnya karena menurutku bagian ini kurang relevan dengan pembahasan kamu tentang kecerdasan emosi.

    ada satu hal yang mengerakkan kita untuk melangkah; ideologi. kecerdasan emosi hanyalah satu bagian kecil dari sebuah hal besar, yaitu apa yang kamu yakini dan pahami sebagai kebenaran. peperangan bukan lagi masalah kamu cerdas secara emosi atau tidak. menurutku, ini adalah pengambilan contoh yang agak terburu-buru. ada masalah global yang harus kamu mengerti dulu sebelum kamu bicara ini dan itu. menarik sebuah kesimpulan yang menyerhanakan masalah, seperti: kalau banyak perang berarti banyak orang yang tidak cerdas secara emosi, memperlihatkan bahwa kamu tidak matang dalam mengkaji masalah dan tidak pandai meramu ide kamu sehingga ide itu bisa diterima semua pihak tanpa banyak pertentangan di dalamnya.

    kalau kamu mau beropini, cara seperti ini sah. tapi masalahnya, kamu kan berteori. berpikir ilmiah dan menulis dengan referensi. ini bukan obrolan di warung kopi, kan? sederhananya, tukang becak dan profesor sama-sama punya pikiran dan bisa berpikir. tapi tukang becak menggunakan pikirannya untuk beropini (karena dia tidak punya kerangka ilmiah) dan profesor berteori.

    bicara tentang commonsense, semua orang juga bisa. kebanyakan tulisanmu adalah commonsense, menurutku. tidak menggerakkan untuk berpikir lebih jauh karena masalahnya disederhanakan, kerangka berpikirnya dikerdilkan, dan semua orang juga sudah tahu apa yang kamu maksud tanpa harus memahami lebih jauh lagi. kalau begini terus, yang commonsense itu bisa jadi nonsense.

    diatas kamu bilang, bahwa kebeerhasilan seseorang tidak ditentukan IP-nya. sekarang aku berkata bahwa keberhasilan penulis bukan dari sebanyak apa bukunya, tapi kualitasnya.🙂

    salam
    temanmu

  3. mataharimerahhati berkata:

    jangan marah… ini kan masukan. biar kamu bisa lebih maju dan lebih baik lagi, ya nggak? kalo gini-gini terus, lama-lama kamu bakal “tenggelam” juga.

  4. rusdin berkata:

    saya senang sekali mendapat banyak masukan, pertanyaan, dan kritikan. itu semua demi perbaikan tulisan-tulisan saya.

    memang benar kalimat yang menyatakan bahwa perang adalah akibat dari rendahnya kecerdasan emosi, kurang relevan lagi. oleh sebab itu, saya akan mengganti redaksi kalimatnya sebagai berikut:

    saya akan menggunakan kata: “Mungkin”

    Mungkin saja, peperangan yang terjadi di era sekarang ini, akibat dari kecerdasan emosi yang kurang memadai. Boleh jadi, mereka (yang selalu memicu peperangan) memiliki kecerdasan rasio yang baik, akan tetapi mengabaikan kecerdasan emosinya.

    dengan menggunakan kata “mungkin” dan “boleh jadi” membuat kalimat di atas sesuai dengan kaidah perpikir. Bagaimana Nita, matahati?

  5. mazasupa berkata:

    waooo…kakak2ku keren deh!!
    sepakat dengan mb okta. ideologi yang membuat orang memutuskan untuk bersikap dan berbuat seperti apa. ideologi, karena ia yang merembes hingga ke sumsum tulang dan menggerakkan perasaan dan pemikiran kita.

    moga makin bermutu deh, kak Rusdin! salam sukses

  6. mataharimerahhati berkata:

    kalo pake mungkin, malah keliatan nggak pasti, ya iyalah… mungkin gitu! jangan pernah mengira-ngira. kan nggak oke kalo statician ngomong 1+1 mungkin atau boleh jadi 2. kalo iya, ya iya! kalo nggak, ya nggak! jangan iya yang nggak-nggak. hehehe…🙂
    mending cari bukti yang bisa nguatin aja sih. jangan bukti kacangan atau cuma persepsi orang aja.
    hey mazasupa, kamu cewek ya? namanya ganteng banget?!

  7. mazasupa berkata:

    dulu sih ganteng mba!
    sekarang dah cantik kok..he3 (*narcis full mode on)

    sy stuju sama mb okta untuk ga pake kata mungkin,
    tapi ga bisa dihubungkn sama status kita sbg statistician
    coz dari awal aku dapat pemhaman klo yang namanya statistik itu cuma pendugaan…duga2
    he3…dugaan parameter..duh mpc, metstat, statmat, keluar smua “gondoruwo”-nya.

    tapi aku ttp stuju untuk menghindari kata mungkin pada masalh2 yg bisa dijelaskn scara pasti
    peace, yow!

  8. rusdin berkata:

    bagus sekali! Masukan dari Maza dan Matahati saya terima dengan penuh rasa kegembira. Saya pikir, permasalahn perang dimotori oleh idielogi masih berupa tarap praduga. masalahnya adalah tidak semua peperangan itu karena perebutan idielogi. hanya sebagian negara saja yang berperang gara-gara idieologi. Kenyataannya, peperangan juga digunakan sebagai salah satu sarana berbisnis. bukan idielogi, tetapi lebih pada mencari keuntungan. Mau contoh? silahkan cari contohnya! (Banyak lho!)

    Mtahati, bukankah kehidupan ini penuh dengan ketidakpastian. dan dengan ketidakpastian itulah kita menjadi lebih baik. Ambil contoh, kematian. Kita tidak pernah tahu kapan nyawa kita melayang ke sisi-Nya. Dengan begitu, setiap harinya kita selalu berupaya menjadi lebih baik. bukan begitu?

    saya menggunakan kata “mungkin” bukan berarti saya “penakut”. Bukan! saya menggunakan kata itu karena saya jujur. Ya, jujur bahwa kalimat itu hanya berupa opini saya semata. mengani pembaca sepakat atau tidak, saya serahkan sepenuhnya pada paradigma masing2 orang.

    lagi-lagi, mengenai idiologi, itu sangat tepat kalu saya mengangkat tema mengenai perang dan idielogi suatu negara. masalahnya adalah saya tidak membicaran masalah tersebut, saya hanya mengaitkan antara peperangan dengan kecerdasan emosi seseorang. sedangkan, idiologi boleh jadi adalah salah satu penentu peperangan. tapi, tidak menutup kemungkinan, rendahnya kecerdasan emosi seseorang pun bisa menjadi penyebab laris menisnya peperangan di dunia ini.

    ringkasnya, saya sangat senang. dengan begini, saya bisa mengevaluasi setiap kata yang saya torehkan di atas kertas. Trimakasih semuanya. saya tunggu tanggapan kalian.

  9. mataharimerahhati berkata:

    kamu harus nyari dulu definisi ideologi (bukan idielogi), baru ber-diskursus.
    nih, kuambilin dari Oxford:

    ideology
    /idiollji/

    • noun (pl. ideologies) 1 a system of ideas and ideals forming the basis of an economic or political theory. 2 the set of beliefs characteristic of a social group or individual.

    — DERIVATIVES ideological adjective ideologically adverb ideologist noun.

    — ORIGIN from Greek idea ‘form’ + -logos (denoting discourse or compilation).

    apa yang kamu percayai juga disebut ideologi.
    jadi kalau kamu percaya hidup adalah kemungkinan-kemungkinan, ideologi kamu adalah ideologi kemungkinan dan ketidakpastian.
    karena ideologi tidak terkait langsung dengan politik (orang awam biasanya berpikir begitu). ideologi adalah cara pikir, cara pandang, point of view kamu terhadap suatu hal.

    oke, masalahnya: a system of ideas and ideals forming the basis of an economic or political theory (kutipan dari Oxford yang di atas). artinya: sebuah sistem dari ide dan bentuk ideal yang berlandaskan teori ekonomi atau politik.
    salah satu teori ekonomi adalah teori bisnis, yang salah satu hukumnya berbunyi: dengan modal yang sesedikit mungkin, kita mendapat untung yang sebesar mungkin.

    jadi, maksud kamu bilang: “hanya sebagian negara saja yang berperang gara-gara idieologi. Kenyataannya, peperangan juga digunakan sebagai salah satu sarana berbisnis. bukan idielogi, tetapi lebih pada mencari keuntungan. Mau contoh? silahkan cari contohnya! (Banyak lho!)”

    commonsense, kan?🙂

    “Mtahati, bukankah kehidupan ini penuh dengan ketidakpastian. dan dengan ketidakpastian itulah kita menjadi lebih baik. Ambil contoh, kematian. Kita tidak pernah tahu kapan nyawa kita melayang ke sisi-Nya. Dengan begitu, setiap harinya kita selalu berupaya menjadi lebih baik. bukan begitu?”

    yang ini commonsense juga.
    masalahnya, kamu bicara tentang ketidakpastian yang pasti. ketidakpastian yang kamu bilang adalah sebuah kepastian. mati itu pasti. waktunya sudah dipastikan Allah. yang tidak kita tahu kapan. karena Allah nggak ngasih tahu. jadi, nggak ada hubungannya dengan tulisanmu juga.🙂

    “Ya, jujur bahwa kalimat itu hanya berupa opini saya semata.”
    jadi, kamu cuma beropini?

  10. mataharimerahhati berkata:

    woiiiiiiiiiiiiii…! peace! kita kan temenan.

    aku pengen kamu jadi lebih keren daripada yang sekarang!
    kalo nggak, ngapain capek-capek baca tulisanmu trus komen?

  11. Aline berkata:

    Wah..wah… diskusi yang menarik. Ikutan ah! (narsis mode on! ) yee.. gak apa2 kan kalau orang yg berpkiran minim seperti saya ikutan comment? Karena saya berdiskusi untuk mencari ilmu. Bukan untuk saling menjatuhkan. Jadi, saya comment bukan untuk menyebelahi siapa-siapa. oke? Hehehe!

    Jujur, saya amat setuju kalau tingkat IP seseorang bukanlah jaminan untuk mencapai kesuksesan. Banyak orang yg sukses tdk memiliki tingkat IP yg tinggi. Bahkan, yg tdk lulus kuliah pun, ada yg jadi org kaya di dunia. Mis, Bill Gates (Basi ya? Atau gak nyambung? :P)

    Saya juga amat setuju kalau kecerdasan emosi adalah penentu kebahagiaan seseorang. (Ini saya tdk mau panjang lebar… Karena jelas-jelas kata ‘Bahagia’ mengacu pada ‘Hati’).

    Trus, ideologi (betul gak ya tulisannya? :P)… Oh, ya! Saya pikir ideologi itu adalah semacam prinsip atau komitmen seseorang/kelompok/negara (yang tentu amat berbeda ideologi seorang saja dengan yg lebih dari satu orang, Karena yg dibahas adalah ‘peperangan’ berarti menyangkut suatu negara/kelompok. Dan, tentu ideologi ini harus diterima secara menyeluruh semua warga. Suka atau tidak. Memang, HARUS! Tetapi, kalau perseorangan itu tidak ada paksaan. Orang bebas mengungkapkan ideologinya. Terserah orang lain mau terima atau nggak. Namanya saja perseorangan. )….Kalau cara pandang itu adalh paradigma/sudut pandang. Hehehehe… aku kok malu-maluin ya?😛

    Sebuah buku atau tulisan tentu lahir karena cara pandang seorang penulisnya. Ide-ide yg dituangkan oleh hanya sebuah kepala. Tidak ada paksaan dari penulis untuk kita mengikutinya. Cuma, permasalahannya, seorang penulis yg ingin bertahan lama adalah penulis yg ber’isi’.

    Kalau menurut saya, buku yg terjual laku/banyak, belum tentu berkualitas. Bisa saja orang banyak salah pilih, bukan?

    “…. ideologi tidak ada kaitannya dg politik (orang awam biasanya berpikiran begitu….” (kutipan ulang dari atas).

    Menurut saya, jumlah banyak belum tentu ‘benar’..

    Segitu dulu ya. Nyambung gak ya?😛 Kalau tdk, jgn dibentak ya! Nanti saya nangis. hehehe! ^_^. Tetapi, ajarin yg betulnya. Oke?

    Wassalamualaikum wr.wb.

  12. Aline berkata:

    Oh, ya! Sedikit tambahan. Sedikit usul dari saya, Kak Rusdin! (ingat, Kak! Ini cuma usul, boleh diterima atau tdk. Bukan paksaan. hehehe!).

    Sebenarnya, saya juga kurang setuju dgn ‘peperangan’ yg banyak memakan korban yg tdk berdosa. Tetapi, sedikit juga saya sependapat dgn Mbak Octa (salam kenal, Mbak Octa!🙂 namanya cantik sama dgn orangnya. Otaknya, juga keren abis.🙂 …) (kembali ke topik). Bukan berarti saya tdk suka peperangan lantas mau mencap semua negara yg berperang adalah bukti bahwa ‘negara’ itu kurang memeliki kecerdasan emosi’. Tidak sama sekali.

    Mungkin, kalimatnya seperti ini lebih bagusnya: “Negara yang berperang dengan alasan yang KURANG TEPAT, membuktikan bahwa minimnya kecerdasan emosi dalam menggunakan alat2 canggih….”

    Karena istilah peperangan memang sudah dikenal pada Zaman Nabi Muhammad pada saat beliau sudah di Madinah. Cuma saja, alasan mereka tepat. Yaitu, mempertahankan diri. Beda, pada masa khalifa, sudah ada istilah ‘penyerangan’ untuk memperluas wilayah kekuasaan Islam.

    Hehehe! (sok tahu.com) ^_^

    Salam hormat.

  13. nita berkata:

    saya suka argumentnya mataharimerahhati.
    rus, minta link mataharimerahhati dong!
    coba ngetrace gak sukses-mbk jangan pelit dong-😀

    hmmm ideologi?
    oke saya akan mencoba mendefinisikan, smoga gak tambah bingung😀
    ideologi adalah aqidah yang melahirkan aturan kehidupan, bingung?

    lalu apa aqidah itu?

    aqidah adalah jawaban dari pertanyaan mendasar setiap manusia,
    (1)saya berasal dari mana (2)untuk apa saya ada (3)akan kemana saya

    so,aqidah adalah pemikiran menyeluruh mengenai alam manusia,semesta,hidup dan hubungannya dengan apa yang ada sebelum maupun sesudah kehidupan dunia.

    aqidah islam menerangkan bahwa alam semesta, manusia dan hidup berasal dari Pencipta(Alloh), keberadaan manusia tidak lain adalah untuk mengabdi(patuh dan taat pada aturan Alloh) dan akhir dari kehidupan manusia adalah kembali pada penciptanya untuk mempertanggungjawabkan pengabdiaanya.

    aqidah kapitalis memandang bahwa alam semesta, manusia dan hidup berasal dari Pencipta(Alloh), namun aqidah ini sekuler:memisahkan agama dari kehidupan -Alloh tidak dijadikan pengantur dalam kehidupan, aturan kehidupan berasal dari akal manusia- dan akhir dari kehidupan manusia adalah kembali pada penciptanya.

    aqidah sosialis menyakini asal dari sgala sesuatu manusia, alam semesta adalah materi-penganut ideologi ini mengingkari penciptaan-, sama halnya dengan kapitalis-aturan kehidupan berasal dari akal manusia- dan akhir dari kehidupan adalah kembali menjadi materi.

    jika ada ideologi selain itu maka ideologi itu adalah inheritance, polymorphism alias turunan, kombinasi dan bentuk lain dari ketiganya.

    Jadi tau kan sekarang kenapa Amerika(kapitalis) dan Uni Soviet(sosialis) menjadi negara adikuasa. Lalu how about islam? Islam pernah menjadi negara adikuasa selama 13 abad, sayangnya tidak banyak dari kaum muslimin mengetahui hal ini. Atau ada yang sudah tau?

    rus, maaf panjang abis gak bisa ngerem kie😀

  14. rusdin berkata:

    Terimakasih banyak atas apresiasi teman-teman menanggapi tulisan-tulisan saya. Saya sangat senang sekali. Setidaknya, saya perlu belajar merangkaikan kata, memadukan pikiran, dan berargumen. Dengan demikian, saya akan semakin baik dalam menuangkan ide di atas lembaran kertas.

    Ochta, sungguh, komentar-komentarmu, membuat saya jadi penasaran pingin langsung berdialog denganmu. Saya yakin engkau memiliki banyak ide-ide gila yang mesti segera dituliskan. Saya juga ingin mengajak kamu menuliskan ide-ide itu. Sekali lagi, komentar-komentarmu membuatku semakin terpacu memperbaiki kualitas tulisan-tulisanku.

    Nita, saya berterimakasih sudah mau menyempatkan waktu berkelilin di blogku ini. Rasa senang sekali. Definisimu benar-benar sangat memadai. Salut!

    Aline, usulanmu bagus-bagus. Gaya mengkritikmu pun bagus dan elegan. Salut!

    Mbak Hanna, teri makasih udah menyempatkan waktunya. Nanti saya main ketempat Mbak Hanna. Di wordpress ya?

    Mazasupa, terima kasih. Tulisan-tulisan di blogmu bagus2. terus menulis ya…..

  15. mataharimerahhati berkata:

    hey… hey… traktiran!

    masih pada diskusi ya?🙂 (jadi malu malah triak-triak traktiran… :-))

    aku lebih suka kalau kita bicara istilah (misalnya ideologi, paradigma atau apapun) harus mengacu pada referensi tertentu yang bisa dipercaya. aku biasanya pake Oxford, karena lengkap sekali dan karena (ini pribadi) aku baru aja jatuh cinta sama Mr. Minor, itu lo penyumbang buat Oxford Dictionary yang ternyata depresi berat. love you Mr. Minor!

    atau nggak, waktu kita bicara dan membicarakan tentang salah satu ayat Al-Qur’an, kita megang tafsir. misalnya, yaaa yang paling umum kan punyanya Ibnu Katsir. jadi nggak akan jadi sesuatu yang nggak jelas ujung pangkalnya atau malah jadi sesuatu yang, apa ya lebih tepatnya, sesuatu yang nggak berdasar.

    di kampus aku diajarin gini. jadi kemana-mana aku nenteng Oxford. atau nggak pake Oxford online. atau buku tentang key concept.

    misalnya aku kutip dari Nita:
    “aqidah kapitalis memandang bahwa alam semesta, manusia dan hidup berasal dari Pencipta(Alloh), namun aqidah ini sekuler:memisahkan agama dari kehidupan -Alloh tidak dijadikan pengantur dalam kehidupan, aturan kehidupan berasal dari akal manusia- dan akhir dari kehidupan manusia adalah kembali pada penciptanya.”

    kapitalis yang kamu maksud belum kena sasarannya. kapitalis itu adalah salah satu kata kunci pada ideologi marxisme yang berasal dari kata kapital yang artinya modal (kalo kita biasa nyebutnya harta kali ya…). ditambah imbuhan -is, dia berubah jadi kata sifat (atau lebih tepatnya imbuhan -isme, karena kata asalnya kapitalisme, bukan kapitalis), artinya paham yang bertolak dari modal. jadi orang kapitalis adalah orang yang berusaha mencari modal (atau harta) sebanyak-banyaknya. terus ditambah aqidah… jadi aqidah kapitalis. hmmm… hubungannya sama inti kutipan Nita di atas aku nggak nemu. karena kamu bilang: “aqidah kapitalis memandang bahwa alam semesta, manusia dan hidup berasal dari Pencipta(Alloh)”. jadi?

    “aqidah sosialis menyakini asal dari sgala sesuatu manusia, alam semesta adalah materi-penganut ideologi ini mengingkari penciptaan-, sama halnya dengan kapitalis-aturan kehidupan berasal dari akal manusia- dan akhir dari kehidupan adalah kembali menjadi materi.”

    sosialis berasal dari kata sosial yang berarti orang banyak. paham sosialisme bertolak dari keinginan untuk menjadikan harta pribadi menjadi harta bersama. atau kalau dalam kehidupan bernegara harta itu kan SDA ya…? ini juga cabang dari marxisme.

    mungkin yang kamu maksud itu adalah materialisme. yaitu paham yang menganggap segala-sesuatunya berasal dari materi. tidak ada penciptaan. teori ini yang ditrntang habis-habisan sama Harun Yahya. materialisme sebenarnya sudah ada sejak zaman Yunani Kuno, hanya saja ketika itu paham ini masih bercampur aduk dengan kepercayaan kepada dewa-dewi.

    ketika Hegel muncul di abad 17 dengan paham dialektikanya (paham thesis-antithesis-sinthesa), maka orang-orang mulai menganggap adanya hubungan antara materialisme dan dialektika. lalu… muncullah kakek sok tahu jenggotan amatiran biologi yang namanya Darwin. tambah kacaulah jagat ketuhanan karena teori evolusinya. (tapi Allah mah nggak kacau, tuhan yang laen tuh pada kacau…). banyak yang jadi atheis.

    Marx sendiri muncul kemudian dengan dasar yang sudah ada. dia memasukkan dan mengawinkan teori dialektika dan materialisme lalu memasukkannya dalam ekonomi. jadilah Das Kapital dan paham dialektika materialisme yang jadi dasar komunisme. jadi komunisme, sosialisme, dan materialisme dasarnya satu.

    ini dari yang udah aku pelajari dan baca lo…🙂. betewe pas ujian aku nggak jawab selancar ini (ujiannya lisan), abis dosennya galak… (dosennya Mas Seno–Seno Gumira Ajidarma itu lah)

    Islam juga adalah ideologi. the way of life.

    tapi aku nggak mau masuk terlalu jauh ke masalah aqidah. aku harus nyari referensi dulu kalo mau ikutan nimbrung. biar nggak salah persepsi🙂.

  16. mataharimerahhati berkata:

    aku emang banci diskusi. kalo ada diskusi biasanya aku nimbrung. abisnya enak sih…🙂 abis diskusi jadi berasa “kaya” gitu. soalnya banyak dapet ilmu baru.

    trus buat Aline: aku nggak cantik. itu fotoku waktu jadi peger-pageran, apalah itu namanya, di kawinan sodaraku. jadi aku didandanin abis bow!

    penutup, to DinDin:
    traktirlah aku sebelum kamu aku traktir…🙂

  17. mataharimerahhati berkata:

    ngomong-ngomong masalah IQ, Madonna IQ-nya 200, Jessica Simpson 160, Mozart cuma 105, Habibi 162 (segitu nggak sih, Din? tertinggi di Indonesia katanya ya?), Eistein nggak sampe 160, katanya cuma 115. ini dari daftar gosip aneh tentang orang pinter dan ber-IQ gede yang pernah aku baca waktu SMA. tapi lupa sumbernya dari mana. tapi IQ mah kagak ngefek!🙂
    gosip lagi nih, katanya masuk STIS IQ kudu lebih dari 110, bener nggak?
    jadi IQ Dindin pasti lebih dari 110. dia atas 110 kan termasuk golongan “di atas rata-rata”.

  18. nita berkata:

    rus jangan pelit, minta link mbk mataharimerahhati dong!!!
    saya salut dengan anda mbak teliti banget.
    iya, salah tulis jadi bisa salah kaprah.
    makasih dah di ingetin, nulis sama ngomong bener2 beda.
    biasanya kl ngomong saya cuma bilang kapitalis kepajangen kl kapitalisme, oke!!!
    mbk sospol ya ?
    seneng bisa discuss kayak gini.
    semuanya ayo nulis…
    ntar discuss bareng-bareng lagi.

  19. irma berkata:

    aslm smw..
    diskusi yg mrangsang otaq u bfikir,mbwt blog ni lbh hidup..
    spkt dg mb okta(bnr g y?slm knal),diskusi bs mbwt qt kaya ilmu,mnggali inspirasi krn ad bnyk pmikiran,ide2 uniq yg hadir..jd pngn knal x-an smw.
    tt kcerdasan emosi yg mpngaruhi kbahagiaan [mnrt sy kcrdsn emosi bkn variabel independen!krn ad bnyk variabel lain yg mmpngaruhiñ,mslny watak dasar sseorg,ideologi dll].jd klo mw lht hub pngruh ant kcrdsn emosi VS kbhagiaan..

  20. irma berkata:

    aslm smw..
    diskusi yg mrangsang otaq u bfikir,mbwt blog ni lbh hidup..
    spkt dg mb okta(bnr g y?slm knal),diskusi bs mbwt qt kaya ilmu,mnggali inspirasi krn ad bnyk pmikiran,ide2 uniq yg hadir..jd pngn knal x-an smw.
    tt kcerdasan emosi yg mpngaruhi kbahagiaan [mnrt sy kcrdsn emosi bkn variabel independen!krn ad bnyk variabel lain yg mmpngaruhiñ,mslny watak dasar sseorg,ideologi dll].jd klo mw lht hub pngruh ant kecerdasan emosi VS ksuksesan
    ..

  21. irma berkata:

    lanjut..mneliti hub pngaruh kcerdasan emosi VS ksuksesan,pstiny akn ad bnyk variabel lain yg muncul..slh 1ny ideologi,yg tb2muncul dr contoh kasus&jd bhn diskusi dsni..
    pdhl mksud fokus tlsn ni adlh mlht sjauh mn hub kcerdasan emosi bpngruh thd ksuksesan..
    krn krg pas pmlhn cntohñ mkny muncul bhsn br yg bs jd bhn tlsn brktny..
    (jmpolñ pgel..koment ñ pas2n bgt.smg tlsn2 qt mjd jalan kbaikn,change the world with words!!),smangat!

  22. rusdin berkata:

    @Irma:

    Terima kasih sudah mau memberikan masukan yang baik. Memang, secara metode penelitian dan pengambilan suatu kesimpulan membutuhkan suatu survei. Saya juga yakin masih banyak faktor yang memengaruhi kesuksesan seseorang. salah satunya yaitu kecerdasan emosi. dan ini sudah dibuktikan secara ilmiah. baik melalui riset ahli pakar otak dan psikologi. Kita bisa membacanya di buku EQ karya Daniel Goleman.

    @Matahati:

    Saya termasuk orang yang menghargai diskusi dan kritikan siapa pun. Dan, saya memang tipe orang yang selalu mencari solusi, bukan perdebatan yang panjang. so, apa pun kritikan itu (selama membangund dan memperbaiki) saya sangat bersyukur sekali. Dan, masukan2 Mbak Matahati ini cukup menjadi tambahan amunisi buat saya untuk terus menjadi lebih baik, dari detik demi detik. nanti, akan saya tuliskan tema baru untuk menjawab tanda tanya Mbak Matahati

  23. tapak merah berkata:

    (sy tahu ini sudah melenceng dari tema awal, tapi ini penting)

    untuk merahhati (nggak usah pake “matahari”, biar nggak capek nulisnya :>)

    mer, tulisanmu TERLIHAT keren , tapi ada yang sangat fatal karena kegagalanmu memahami dan menerjemahkan sebuah teks. lihat ini, kau mengutip definisi oxford (setahuku, menjadikan kamus sebagai rujukan ilmiah adalah sesuatu yang kurang ilmiah, karena begitu terbatasnya ruang pembahasan di dalamnya. kamu tuh mirip “dian sastro”, mer. buka di sini: http://nadhiv.wordpress.com/2006/11/07/bersama-dian-sastro-2/ ) untuk entry ideology: “a system of ideas and ideals forming the basis of an economic or political theory”. tapi kau mengartikannya sebagai “sebuah sistem dari ide dan bentuk ideal yang berlandaskan teori ekonomi atau politik”.

    kau kabur dalam menerjemahkan “system”, gagap dalam menerjemahkan “ideals”, dan salah kaprah dalam menerjemahkan “forming the basis”. “a system of ideas” lebih tepat jika diartikan “serangkaian ide” daripada “sebuah sistem dari ide”. tentu tetap ada sedikit banyak distorsi dengan kata “serangkaian”, tapi itu jauh lebih lebih mendekati makna yang diinginkan oxford daripada frase “sebuah sistem dari ide”. ini dipertegas dengan definisi edisi 1995 kamus yang sama (yaitu oxford) tentang kata yang sama (yaitu ideology). nih kutipannya: “a set of ideas or believes that form the basis of an economic or political theory or that are held by a particular group or person”.

    kata “ideals” kau terjemahkan “bentuk ideal”. bentuk ideal dari apa? kurang jelas! dalam oxford 1995, sebagai noun, “ideal” berarti “a person or thing regarded as perfect” (seseorang atau sesuatu yang dianggap sempurna) atau “a standard of perfection” (standar kesempurnaan). dan sebagai pembanding, hassan sadhily dan john m. echols membahasaindonesiakannya dengan “idaman, teladan, cita-cita, ideal”. aku pikir dalam konteks diskusi kita, kata “cita-cita ideal” lebih mewakili. sehingga, “a system of ideas or ideals” lebih enak (nyam-nyam :>) diterjemahkan sebagai “serangkaian ide dan cita-cita ideal” daripada “sebuah sistem dari ide dan bentuk ideal”. (note: di edisi 1995, oxford menggunakan kata “believes”—keyakinan– bukan “ideals”).

    yang paling parah, kau terjemahkan kata “forming the basis” sebagai “yang berlandaskan”. “forming” adalah bentuk aktif, bukannya pasif, sehingga ia seharusnya diterjemahkan sebagai “yang melandasi”, bukannya “yang berlandaskan”. ini jelas merupakan a crime of translation!😀

    semua ini konsekuensinya sangat besar, mer. coba, kalau kau agak benar dalam menerjemahkan definisi ideology yang diberikan oxford itu (misalnya begini: serangkaian ide dan cita-cita ideal (atau keyakinan, menurut versi 1995) yang melandasi teori ekonomi dan politik), kau tidak perlu “mengolok” definisi ideologinya nita, “aqidah yang melahirkan aturan kehidupan”. (kalimatmu “aku lebih suka kalau kita bicara istilah…harus mengacu pada referensi tertentu yang bisa dipercaya” adalah olokan halus untuk nita, ya kan? :>) bukankah aqidah adalah serangkaian ide dan keyakinan (ingat oxford 1995! :>)?. bukankah melandasi dan melahirkan dalam konteks ini tidak jauh beda? bukankah teori ekonomi dan politik adalah termasuk aturan kehidupan?

    dan di titik terakhir inilah justru definisi nita lebih komprehensif dibanding oxford. ideologi itu berkaitan dengan kehidupan (kukutip tulisanmu: “islam juga adalah ideologi. the way of life”). dan kehidupan itu isinya bukan hanya politik dan ekonomi!! iya kan?

    begitulah, mer. kesalahan menerjemahkan bisa berakibat serius. dan kali ini kau sudah jauh lebih parah dari apa yang dikatakan laksmi pamuntjak saat menulis introduction untuk buku goenawan mohamad selected poems. dia bilang, “translation is a form of betrayal“—terjemahan adalah sebentuk pengkhianatan. kau sudah baca buku itu kan, mer?

    dengan ini pula, semoga kau teringat akan apa yang aku katakan padamu beberapa hari yang lalu itu: “being good is more important than looking good”—menjadi baik itu lebih penting daripada terlihat baik. he he.
    oke, kembali ke pembahasan ideologi.

    dari definisi oxford maupun nita, jelas ada dua unsur dalam ideologi: ide dasar (aqidah istilah nita) dan aturan hidup. ide dasar itulah yang melandasi semesta aturan hidup yang dibangun di atasnya.

    nah, di sinilah kemudian nita memberikan sedikit perbandingan mengenai ide dasar dari tiga idelogi yang ada: kapitalisme, sosialisme, dan islam. sekali lagi, yang dibahas nita adalah ide dasar ideologi, bukan ideologi itu sendiri. ini yang kemudian tidak kau ditangkap dengan baik, mer.

    misalnya, ketika nita mengatakan bahwa aqidah kapitalisme begini begitu, kau langsung membantahnya dengan mengatakan bahwa kapitalisme itu begini dan begitu. padahal, antara aqidah kapitalisme dan kapitalisme itu jelas berbeda. ya, seperti perbedaan akar pohon dengan pohon; seperti perbedaan antara pondasi rumah dan rumah.

    kapitalisme, berdasarkan sejarah kemunculannya, berdiri di atas landasan paham sekularisme. maka sekularismelah yang menjadi aqidah kapitalisme. di sini maka kita akan melihat benang merah mengapa nita mengatakan bahwa aqidah kapitalisme “memandang bahwa alam semesta, manusia dan hidup berasal dari pencipta(alloh), namun aqidah ini sekuler:memisahkan agama dari kehidupan -alloh tidak dijadikan pengantur dalam kehidupan, aturan kehidupan berasal dari akal manusia- dan akhir dari kehidupan manusia adalah kembali pada penciptanya”. begitulah, inti dari sekularisme adalah mendepak agama dari kehidupan.

    karena kau suka oxford, nih definisi secularism menurut kamus ini (versi 1995 lagi :>): the belief that laws, education, etc should be based on facts, science, etc rather than religion.
    yang unik, dalam menganggapi pembahasan aqidah sosialisme nita, kau berkata, “mungkin yang kamu maksud itu adalah materialisme”. padahal mungkin memang itulah yang dimaksud nita dengan aqidah sosialisme. bukankah ide dasar (aqidah) sosialisme adalah materialisme?

    *utk nita: kau mengambil definisi ideologi itu dari nidzaamul islamnya an-nabhani bukan? sebutin dong. kalo perlu sertakan bhs arabnya: al-mabda’u huwa al-aqiidatul aqliyatu alladzii yanbatsiqu anhaa nidzaamun (begitukah bunyinya? he he).

    *utk mas rusdin: salut atas kelapangan dadamu menerima hajaran kritik merahhati. Rusdin M. Top deh (maksudnya, rusdin emang top, he he. jangan langsung teringat sang buron polisi gitu dong). maaf telah ikut menjadikan blogmu sebagai ajang perkelahian.  jangan takut menulis sebanyak mungkin hal-hal yang common sense. Hitler (betul kan, mer?) pernah berkata bahwa kebohongan yang diucapkan seribu kali akan menjadi kebenaran. Nah, siapa tahu, common sense yang dituliskan seribu kali juga akhirnya akan menjadi uncommon sense. Ups, fallacy of false analogy ya, mer? he he.

  24. irma berkata:

    hmm..kali ni jd pngamat dlu ah..
    @tapakmerah&mb mer’octa’ salut!!peace..
    @rusdin,antm melankolis plegmatis..cinta damai..

  25. agung hartadi berkata:

    din masih ingat aku, ga ingat juga ga apa2 ga wajib, afwan baru tau informasi kamu dari anak STIS yang lg liburan dikantor, afwan sy ‘ketinggalan’, besok ketemu toko buku sy beli buku kamu dan sesaat kemudian sy akan jadi murid kamu lewat buku, tanks atas karyanya

  26. Solihin berkata:

    Assalam wr wb
    Sy orang awam dgn akademik,maklum alumnus SD. Mas/mbak,sy salut dgn ilmu yg anda2 miliki,permasalahan kita byak..!
    Cba dgn ilmu kalian bntu kmi dlm memperbaiki hidup(materi&spiritual) jgn mlh mempertontonkan k’hbtn ilmu kalin.
    Wassalam wr wb

  27. listri berkata:

    Wa’alaikumussalam wr wb … bapak solihin

    Tak pantaslah manusia mengambil milik ALLAH “sombong”

    bapak do’a kan saja begitupula kta semua agar ilmu yang sedikit kita miliki ini dapat menyelamatkan diri kita dari azab di dunia dan azab di akhirat. bisa dengan tak pernah henti untuk berbagi kebaikan tak hanya sebatas teori.

    ketika hati sudah bersih maka pandangan akan cerah menghadapi kesulitan dengan bahagia,
    uang yang sedikit bukan masalah asalkan halal didapatkan dan tak ada kekurangan sedikitpun.
    anak harus putus sekolah, bisa dididik di rumah dengan harga yang murah pengawasan terjaga.
    istri marah-marah, memberikan ia minum adalah cara yang mulia. katakan, ALLAH sedang menguji kita dengan cinta.

    Wallahu’alam.

    Wassalamu’alaikum wr wb .. bapakku yang kucinta karena ALLAH.

  28. rich frame berkata:

    assalamualaikum wr. wb

    saya cuma mo nanya, apakah bisa kecerdasan emosi itu dibentuk dan dilatih, maksudnya, hubungannya dengan kebiasaan yang buruk, sulit untuk dirubah tapi tetap bisa, begitujugakah dengan management emosi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s