Be Happy Before Rich!

Sebelum membangun rumah, kita pasti butuh banyak perencanaan. Dari model rumah sampai biaya yang harus dihabiskan. Biasanya, arsitek menggambarkan bentuk rumah kita. Setelah kita sepakat dan sesuai dengan kemauan, barulah rumah kita dibangun.    

dsc00031.jpg

  Bukan saja pembangunan rumah, proses produksi barang apa pun, terlebih dahulu dibuatkan “blue printnya”. Begitu pun saat Anda menggambar blue print kehidupan Anda di kepala, tentu Anda bisa saja menggambarkan Anda seorang yang sangat kaya. Jarang sekali Anda membayangkan—disamping kekayaan itu—Anda tak bahagia.              Sebagian orang ketika menggambarkan diri mereka, justru mereka berfokus pada ketakutan, kekhawatiran, dan keragu-raguan. Misalnya, takut miskin, taku gagal, takut tidak dapat membahagiakan istri dan mertua, dll. Kita merasa sangat takut. Dengan ketakutan itulah setiap tindakan kita hanya didorong oleh motivasi untuk struggle. Alhasil, Anda terus bertindak mengejar kekayaan Anda, tetapi Anda tak pernah merasa bahagia. Anda merasa sangat tertekan dalam mengejar kekayaan. Dalam benak Anda menjadi kaya terlebih dahulu, kemudian menikmati kebahagiaan.           

  Saya juga menemukan kasus ini pada sebagian penulis pemula dan penulis yang sudah tidak produktif lagi. Mereka berterus terang pada saya bahwa mereka menulis untuk mengejar uang, mengejar nama, keterkenalan, dll. Hasilnya, mereka menulis dengan penuh tekanan dan rasa ketakutan (takut tidak diterbitkan, takut tidak dapat uang. dll). Memang tulisan-tulisan mereka sangat bagus, tetapi apakah mereka bahagia melaluinya. Belum tentu. Boleh jadi, mereka tidak bahagia menjalani aktivitas menulis. Setelah merampungkan tulisan, barulah mereka bahagia. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.             Rumusan al-Quran sungguh sangat mengejutkan: bersenang-senang dahulu bersenang-senang kemudian. Dengan kata lain, berbahagialah sebelum bekerja (mengejar kekayaan, menulis, dll)! Dalam redaksi lain, berbahagialah sebelum kaya!           

  Mari kita bahas… “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah disegala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Qs. Al-Mulk:15). Perhatikan: Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu. Sebelum kita mengejar kekayaan, Allah menyuruh kita berpikir positif alias kita disuruh berbahagia. Kita harus berbahagia karena Dia telah menjadikan bumi ini mudah. Ayat ini pun sesuai dengan prinsip “Law Of Attraction” (Hukum Ketertarikan). Dengan diperintahkan kita berpikir positif (bahwa bumi dijadikan mudah bagi kita), maka pada dasarnya kita memancarkan getaran positif ke alam sekitar. Dan, alam sekitar pun akan merespon getaran yang sama. “Dan Allah memberi rezeki…..tanpa batas.”(Qs.al-Baqarah: 212)             Setelah kita merasakan kebahagiaan, kemudian Allah melanjutkan titahnya: berjalanlah! Kita diperintahkan melakukan kerja setelah menanamkan benih kebahagiaan dalam dada. Artinya apa? Kita bekerja bukan untuk menghindar dari rasa takut, rasa khawatir, atau semata-mata karena motivasi struggle.        

     Selanjutnya, Allah merekomendasikan sifat kepasrahan dalam hidup. Setelah kita bekerja banting tulang, tetapi tak jua meraih kekayaan, sebaiknya kita pasrah. Pasrah bukan berarti berdiam diri. Bukan! Akan tetapi, kita harus kembali memikirkan rencana yang matang, atau yang lebih tepat untuk mendapatkan kekayaan. Atau boleh jadi kita belum siap menjadi orang kaya. Oleh sebab itu, kita perlu memperbanyak waktu memikirkan peluang untuk meraih kekayaan. Jadi, kita tidak bahagia dong?           

  Justru, kita bertambah bahagia? Karena kita akhiri semua itu dengan kesyukuran. Dan kekuatan harapan.  Bukankah Allah senantiasa mengabulkan permintaan hamba-Nya? Mintalah kepada-Ku, akan Aku berikan…(al-Quran). Satu titik kelak kita akan meraih kekayaan yang kita idam-idamkan. Yang terpenting tetaplah bahagia. Bahagialah sebelum bekerja! Jangan terbalik: bekerja keras sampai kaya kemudian bahagia.            

 Bagi penulis, tak perlu khawatir jika karya Anda belum best seller. Teruslah bahagia dan menulislah dengan penuh kebahagiaan itu! Satu titik kelak—dengan terus produktif menulis—karya Anda akan meledak alias best seller            

 Belajarlah dari Kang Abi, penulis novel Ayat-Ayat Cinta (AAC). Sebelum menghasilkan novel best seller itu, beliau terus produktif menulis. Nah, ketika karya AAC-nya itu meledak di pasaran, eh, malah karya-karya sebelumnya—yang tidak best seller—malah diburuh para pembaca. Lebih bahagia, bukan?

6 thoughts on “Be Happy Before Rich!

  1. Ratna berkata:

    Be happy before rich? Kok yang saya tangkap maksudnya ntar kalo udah kaya ga bakalan hepi lagi? Berhepi-hepi dulu sebelum kekayaan menimpa…:) Bgitukah?

  2. rusdin berkata:

    coba di baca lagi. emang sih dari judul, boleh jadi pembaca salah tangkap. nah, dalam tulisan ini saya sudah jelaskan bahwa kita harus bahagia sebelem bekerja (menjadi kaya) setelah kaya maka tetaplah bahagia.

    trimakasih udah datang ke kediamanku ini

  3. mataharimerahhati berkata:

    Ya…ya…ya. Aku setuju. Tapi–emang harus ada tapinya biar kritis–ini point of view yang agak bertentangan dengan commonsense orang-orang. Berbahagia bukanlah hal yang sulit. Bahagia dan kaya, buatku, adalah hal yang penting, dua-duanya. Saling mendukung, dua-duanya. Kita bisa berbahagia untuk menjadi kaya atau kita bisa menjadi kaya dulu agar bisa berbahagia. kalau tidak untuk berbahagia, untuk apalagi kita hidup? Dunia sudah penuh sesak dengan orang-orang yang berkeluh-kesah, menggerutu, dan punya negatif thinking lebih banyak daripada positif thinking. kalau kita nggak berusaha beda dengan yang lainh, maka kita akan sama saja, tidak akan jadi apa-apa.

  4. nur berkata:

    assalaamu’alaykum wr wb

    setuju… dari judulnya orang memang bisa salah tangkap😀

    speaking of bahagia, saya juga selama ini terus mencari2 apa sih yg bisa bikin seseorang merasakan kebahagian yg ultimate…

    meski masih belum mendapat jawabannya, tapi saya jadi mendapat ilmu dari seorang sahabat. beliau berkata sedih dan bahagia adalah pilihan kita.

    ketika kita menghadapi masalah kita bisa memilih untuk terus menerus larut dalam kesedihan memikirkan betapa sulit masalah kita, atau kita bisa merubah our point if view dalam memandang masalah kita dan menjadi bahagia. Dan ketika kita merasa bahagia kita akan mendapat pasokan energi yg lebih untuk memecahkan permasalahan kita.

    tapi memang g segampang itu merubah point of view, karena pada dasarnya manusia itu memang seneng berkeluh kesah. Tapi semua ada jalan keluarnya, dan hal yg paling mudah adalah dengan berlatih

    berlatih untuk selalu bersyukur, berlatih untuk selalu menigingat berjuta bahkan bermiliyar nikmat yg tlah diberikanNya
    berlatih untuk selalu meyakini bahwa Dia begitu mencintai kita, dan setiap masalah yg diberikanNya pada kita adalah semata2 utntuk kebaikan kita
    dan ketika diberikanNya masalah telah disediakan pula olehNya pemecahannya, yg kita tinggal lakukan adalah berusaha mencari ke segala arah
    hingga kan kita temukan dimanakah Ia “meletakkan” solusi atas masalah kita… n_n

  5. mataharimerahhati berkata:

    keyword tulisan rusdin: kaya, motivasi, semangat, bahagia…
    keyword yang aku sarankan untuk ditambahkan: humble (rendah hati), selalu bersyukur, perhatian, dan persahabatan…🙂

    usul aja sih…

  6. FaJaR_sAnToSo_pUtRa berkata:

    Assalammualaykum warahmatullah wabarakatuh

    waduh ada bahasan tentang bahagia lagi neh! tapi hubungannya sama kaya…
    tapi kalo dipikir-pikir (halah, gaya banget niy anak!) ini nyambung (lebih tepatnya siy dipaksa nyambung alias disambung-sambungin gitu…) sama konsep sukses bahagia yang pernah saya kemukakan di Pandangan Al-Quran Mengenai Kesuksesan dan Kebahagiaan. (wesss…bangga gitu…)

    kaya itu ada korelasi ga sama kesuksesan, Din?
    maksudnya, apakah variabel kaya itu termasuk salah satu indikator kesuksesan?
    (halah, songong banget…sok statistik, padahal statmat ‘n metstat aja her…he..he..he..)

    setiap orang, baik yang asal-asalan, setengah hati, tiga perempat, ato yang sepenuh hati, saya yakin mereka pastinya ingin apa yang udah mereka lakukan ato mereka kerjakan bisa membuat mereka jadi kaya.
    tapi seperti yang Rusdin bilang, semua itu kan kembali sama ALLAH. saya pernah dengar dalam suatu ceramah (saya lupa siapa nama ustadznya) bahwasanya takdir manusia itu bisa berubah di ujung ikhtiarnya. siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan balasan atas kesungguhannya (usahanya) itu.

    tapi tetep aja ya Din, definisi bahagia dan kaya itu beda-beda tiap orang.
    buat saya, ini jadi suatu tambahan keyakinan bahwa sukses itu adalah bahagia atas apa yang kita lakukan, atas apa yang kita kerjakan, dan atas apa yang kita dapatkan.

    jadi be happy before rich
    coz happiness is a success.

    maaf atas segala keterbatasan Din. jangan segan-segan untuk bagi-bagi ilmu sama saya ya, Din. kapan-kapan, gantian Rusdin yang maen ke rumahku. tapi masih sketsa aja siy. tapi tenang aja, nti klo udah jadi, saya kasih tau deh…okeh =>

    yang benar datang dari ALLAH
    karena ALLAH-lah sumber dari segala kebenaran

    dan yang salah adalah dari FaJaR
    karena FaJaR memang banyak salahnya
    so…

    wal ‘afwu minkum

    Wassalammualaykum warahmatullah wabarakatuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s