Positive Thinking dalam Menulis

Positive Thinking dalam Menulis

(Oleh: Rusdin S. Rauf, pemerhati kehidupan)

Beberapa kawan pernah mengatakan pada saya, “Menulis itu susah banget, emang sih teori menulis itu mudah, tapi tak semudah praktiknya.” Mendengar pernyataan itu saya terdiam sesaat.

“Menulis itu mudah kawan!” ujarku dalah hati.

Saya tidak berkomentar apa pun. Saya hanya diam mendengarkan semua curahan isi hatinya. Saya tatap matanya. Tak satu pun kata-kata meluncur dari bibir tipisku ini, kecuali, “Cukup!”

Malam harinya, saya teringat sebuah buku yang mengutarakan betapa mudahnya menulis. Saya lupa judul bukunya. Saya pun mencoba membuka lembaran memori masa silam. Tapi, saya benar-benar lupa.

Akhirnya, tanpa berpikir panjang, kukumpulkan buku-buku yang mengupas seputar permasalahan tulis-menulis. Sepuluh menit waktu yang cukup mengambil bukuku yang terpajang di rak lemari. Saya sengaja meletakkannya di tempat yang mudah terlihat supaya menjadi motivasi bagiku untuk terus menulis. Saya kumpulkan semuanya. Jumlahnya tak kurang dari lima belas buku. Kulihat buku-buku itu: 6 langkah jitu agar tulisan anda makin hidup dan enak dibaca karya Wahyu Wibowo, Dunia Katanya ustad Fauzi Adhim, Quantum Writing Hernowo, Creative writing-nya AS Laksana, biografikarier-nya Laura Ingalls Wilder, sampai pada buku yang terakhir: biografikarier-nya Stephen King.

Mataku tertuju pada buku yang terakhir itu. Seolah-olah sinyal-sinyal memori masa laluku kembali membaik. Kubuka berlahan-lahan buku itu. Oh my good, thanks banget. Akhirnya usaha buka-bukaan pada malam itu tak sia-sia, kutemukan apa yang kucari. Mau? Berikut kutipannya:

Terbebas dari beban mencari pekerjaan tambahan untuk menafkahi keluarganya, Stephen membuat rutinitas menulis yang dia ikuti secara ketat selama bertahun-tahun…[semenjak awal kariernya sebagai penulis pemula]. Pada pagi hari, setelah berjalan-jalan jauh, dia menulis selama kira-kira tiga jam…[ini yang saya sebut: menulis marathon], siang harinya, selain menghadapi urusan bisnis dan korespondensi, dia biasanya mencurahkah beberapa jam menuangkan gagasan untuk proyek buku berikutnya. Selain itu, ia menyediakan beberapa jam sehari untuk membaca karya-karya pengarang favorit yang baru maupun lama… Jarang dia melanggar jadwalnya bahkan pada hari ulang tahunnya ataupun natal. (biografikarier Stephen King, hal. 70)

Wow, luar biasa, bukan? Ternyata, satu kesimpulan yang kudapatkan, menulis itu mudah. Kok bisa? Ya bisa dong! Mungkin kesulitan yang Anda alami itu karena keterbatasan diri Anda. Maaf, maksud saya keterbatasan cara Anda berfikir. Begini…ketika Anda berfikir bahwa menulis itu susah, maka Anda pun menjadikan kegiatan tulis menulis itu sebagai kegiatan yang amat sangat membosankan. Anda muak menulis. Bahkan, yang paling menyakitkan, Anda tak pernah memulai menulis. Yang ada hanyalah pengeluhan-pengeluhan yang tak pernah berujung.

Coba Anda baca kembali kutipan saya di atas! Apa kesimpulan Anda? Ternyata, menulis itu membutuhkan keseriusan, membutuhkan komitmen, dan membutuhkan positive thinking, bukan? Bayangkan saja, kalau para penulis hebat seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, JK. Rowling, Thomas Armstrong, Ian Marshal, dll tidak memiliki positive thinking, boleh jadi karya-karya mereka tak kunjung ada dipasaran.

Memang benar, menulis membutuhkan bakat. Saya sangat amat setuju. Tapi, hasil pembacaan saya dari beberapa biografi penulis hebat di atas, mereka tergerak menulis bukan karena mereka menyadari bahwa mereka memiliki bakat. Oh, tidak kawan. Justru mereka terusik oleh tuntunan jiwa untuk berkarya, untuk mencerahkan, dan untuk mencerdaskan orang lain. Tujuan-tujuan mulia itulah yang menghantarkan mereka ke pintu kejayaan personal maupun kejayaan publik. Inilah yang saya senang menyebutnya Emotional Spiritual Writing (ESW).

Apa itu ESW? Anda tertarik? Silahkan baca postingan saya beberapa bulan lalu. Di situ sudah saya uraikan sedikit mengenai konsep ESW.

Kembali ke kawan saya tadi. Saya tidak hendak memojokkannya. Sungguh tidak. Dia benar. Boleh jadi, ia berfikir seperti itu (menulis itu sukar) karena sebab historical atau sebab budaya lingkungan yang membentuk karakternya. Jadi, salah siapa? Tidak ada yang salah atau yang benar. Yang ada hanyalah kesalahan dalam memandang sebuah permasalahan. Itulah sumber malapetaka terbesar dalam hidup Anda (termasuk saya tentunya).

Tapi, jangan khawatir! Anda punya banyak waktu membenahi semuanya. Anda punya segudang kesempatan mengubah sudut pandang berfikir Anda. Anda hanya butuh cara membasmi “virus-virus” negative thinking dalam menulis.

Lantas, bagaimana cara terefektif menghilangkan pikiran-pikiran negative untuk menulis? Mudah kawan! Jawabnya adalah hidupkan nuansa ESW Anda. Insya Allah, Anda segera menjadi seorang penulis best seller untuk diri Anda sendiri. Tertarik dengan ESW saya, lagi-lagi silahkan Anda mengaksesnya, seingat saya, postingan tersebut sebulan yang lalu.

Akhirnya…sampai ketemu pada kesempatan depan. Insya Allah, saya akan menuliskan beberapa cara membangun komitmen menulis, termasuk di dalamnya saya akan jelaskan teori menulis marathon. Mohon doanya biar saya tetap sehat walafiat…

Salam hangat dariku,

Pemerhati kehidupan,

18 thoughts on “Positive Thinking dalam Menulis

  1. tya berkata:

    menulis itu gampang…

    hmmm…sebenernya itu kan definisi yang hanya mencakup ranah penulisan sebagai kegiatan yg ‘bisa’ atau ‘tidak bisa’ dilakukan.

    kalo gitu penyelesaiannya sama aja kayak kegiatan apapun. Semua hal bisa jadi susah, tapi bukan berarti gak bisa dilakukan.

    anyway, cuman pengen ikut komentar (kata octa, aku boleh ikut comment, hehe). Menulis itu kan punya tujuan. Tujuan yg membedakan dia sama kegiatan lain. Kalo memang sudah concern untuk menulis, harusnya ‘gampang’ atau ‘gak gampang’, ‘bisa’ atau ‘gak bisa’ sudah tidak lagi jadi masalah.

    Yg jadi masalah sekarang adalah tujuan. Mau nulis novel kek, cerpen kek, cerbung kek, paper kek, artikel kek. sebenernya gak beda jauh. Mau nulis apa? mau bicara soal apa dari yang ditulis? gimana caranya ide kita bener-bener nyampe sama yang baca.

    Kalo udah sampe ke masalah ini, definisi ‘gampang’ atau ‘susah’ pun jadi beda. Memang menulis itu punya ‘kesusahan’ tertentu untuk kepentingan menyampaikan ide lah, dll. Jadi harusnya sih, menurutku, gak bisa se’gampang’ itu bilang menulis itu mudah.

    Menulis jadi ‘mudah’ kalo problemnya sekedar: ambil kertas, pulpen, nulis deh.

    sori kalo komentarnya kepanjangan.
    saia banci nulis juga sih, hehe.

    -temennya octa (si mataharimerahhati itu lah)-

  2. rusdin berkata:

    @mataharimerahati:
    Makacih udah mau berbagi dengan diriku. saya senang sekali punya banyak teman yang memberikan banyak masukan. itu semua sebagai perbaikan diriku. Bukan begitu?

    @Tya:
    Iya, tya saya sepakat. Saya bahagia sekali dengan komentar Tya. Setidaknya, saya sudah mendapatkan “buah-buah” emas dari ungkapan-ungkapaan Tya. Saya sadar menulis itu tidak mudah, meskipun saya berkata menulis itu mudah. memang sih, awal-awalnya menulis itu terasa susah banget. tapi, kalau kita sudah menjalaninya, malah menulis itu betapa mudah. saya sendiri–sekedar sharing–mampu menuliskan satu bab setiap harinya (satu bab= 30 halaman, ukuran A4, spasi 1,5, times new roman).
    Anehnya, semakin saya menulis, semakin saya terhanyut dalam tulisan itu. akibatnya, nafsu menulis saya setiap hari kian meningkat. terkadang, saya malah heran sama diri saya sendiri. mungkin karena saya seorang statistican. dan karena saya sering membaca, observasi, mewawancarai orang lain, dll. Sekali lagi, Thanks banget Nona Tya.
    Nona Tya temennya Octa ya? salam buat teman-teman lain ya. kuliah or kerja? where?

  3. mataharimerahhati berkata:

    dear Rusdin…
    senang bisa mampir ke sini lagi.
    aku liat ada yang baru. aku belum comment. aku bawa pulang dulu buat dibaca bener-bener. biar agak santai dan enak bacanya. jadi aku commentnya nanti ya…🙂

    aku sama tya masih kuliah nyampi kerja. kerjaan kita bikin skenario film lepas televisi. semacam ftv.

    kalo aku, biasanya nulis satu skenario dalam tiga hari (sekitar 90 lembar, spasi 1, curier new, standar skenario emang gitu). ditambah paper kuliah mingguan, sekitar 3 resume tiap kuliah yang di deadline tiap senin, selasa, rabu, plus paper panjang 5000 kata. sekarang kami sedang berjuang untuk menyelesaikan 10 paper 5000 kata itu.

    di sela-sela itu, aku nulis novel dan puisi. untuk non-fiksi kan udah ditampung sama kerjaan kuliah. analisis ini-itu pake teori ini-itu. banyakan cultural studies.

    kita kuliah di kajian media. di satu-satunya kampus kajian film dan media di Indonesia tercinta ini.

    tiap minggu minimal baca 2 buku bahasa inggris tentang macem-macem hal yang nggak kepikiran ada orang yang mau nulis hal-hal kayak gitu. misalnya tentang kajian feminist atau marxism.

    tiap bulan kita seminar.

    aku bahkan nggak kebayang bisa hidup kayak gini!

    tapi bukan berarti kita nggak having-fun. tiap pekan masih sempet nonton, jalan ke toko buku, atau nggak ke kineforum.

    hidup kan kudu dinukmati toh?

    buatku sih, sebenarnya bukan kuantitas yang mau diomongin. tapi kualitas.

    kita bisa nulis ratusan lembar tiap hari, tapi kalo cuma jadi sesuatu yang usang dan tidak memberikan banyak manfaat untuk banyak orang, buat apa? ya nggak?

    kecuali job skenario sih. itu pure cari uang… hehehe.

  4. tya berkata:

    hahaha. sori nulis lagi. Habis anda ngasih tema yg bagus sih buat diomongin di sini. Apalagi saia memang lagi hobi ninggalin komen-komen aneh dan nggak penting di blog-blog temen-temen saia yg laen.

    Ya, ya, ya. Nafsu nulis itu memang penting. Kalo pernah baca buku berjudul How to Speak Dragonese (Hiccup’s series – ini salah satu buku konyol dan lucu kesukaan saia dan Octa), orang-orang Viking dikenal sebagai prajurit perang legendaris karena mereka sering mengalami ‘kegilaan’ saat sedang berperang. Dan itu yg bikin mereka jadi bangsa yang dalam mitos sih, terkenal kuat dan ya… jago perang. hehe.

    Malahan kalo kita punya nafsu kuat buat nulis atau bahkan punya semacam ‘kegilaan’ a la kaum Viking itu saat menulis, kali aja kita semua nanti bisa jadi para penulis legendaris. Amin.

    Mumpung ruang diskusi udah kebuka dengan peserta seadanya ini: saia, anda, dan octa. Maka mari kita perluas ranah pembicaraan kita. Yah…lumayan lah. Biar bisa ‘badai otak’ (baca: brainstroming) soal dunia tulis-menulis ini.

    Misalnya,
    Kan kita sudah ngebahas ‘menulis’ dari sisi kegiatannya. Ada beberapa faktor kemudahan, kesulitan, keasikan, mencari uang, requirement kuliah, dan lain-lain.

    Mmm…sekarang apa ya? Jadi bingung. Anda aja deh, kali aja bisa bikin isu laen buat kita bertiga diskusiin (baca: lempar comment) lewat kotak komen kecil ini. Hehe. Kalau gak keberatan sih…

    ^o^;

  5. mataharimerahhati berkata:

    writing is a bliss.

    wah, kenapa sih, kita harus ribut di blog orang? kita kan bisa meributkan ini di kampus, di kelas, ato nggak di 502?

    tapi ini cukup menarik. Rusdin nggak ikutan. yah, kalo nggak, dibaca aja. kita aja yang ribut. hehehe…🙂

    masalahnya, buat gue: kenapa da orang yang nulis buku nggak penting seperti Hiccup’s Series trus dikenal dan bukunya laris, tapi ada orang yang nulis buku yang maksudnya lebih baik dari pada sekedar konyol-konyolan tapi nggak giu banget terkenal?

    buat gue, ada yang namanya industri. kita semua juga udah maklum kan? kita nulis for money lah singkatnya. walopun emang untuk beberapa kasus, kita nulis untuk sesuatu yang lebih oke; cita-cita, bagi-bagi ilmu, dll.

    tapi ada juga yang namanya ketekunan.

    Jony Ariadinata dulunya cuma tukang becak di Malioboro. 200 tulisannya ditolak Kompas sampai akhirnya ada yang dimuat. Ini namanya gigih.

    ada lagi yang namanya teknik. buat gue ini yang paling penting! karena sastra adalah seni, maka seperti seni-seni yang lain, dia juga butuh teknik. kalo istilahnya Plato: “techne”. kalo nggak pake teknik yang membuat sastra–atau kegiatan tulis-menulis pada umumnya–beda dengan disiplin seni atau ilmu lainnya, maka sebenarnya sastra itu tidak ada.

    menulis itu mudah, gitu kata Arswendo. kita bisa liat ada orang yang bisa nulis berpuluh-puluh lembar tiap hari. tapi sesuatu yang membuat orang itu bisa menulis dengan cara seperti itulah yang sulit dan harus tekun dipelajari. proses menuju ke level itu mungkin bukan sehari dua hari atau setahun dua tahun. Haiku cuma tiga baris toh? tapi untuk buat haiku, setidaknya kamu harus latihan dulu bertahun-tahun. kalo nggak jadinya haiku-haikuan🙂.

    butuh backgroun ilmu super-luas untuk menulis sesuatu yangh cukup kompleks agar bisa dipertanggung-jawabkan. nggak bisa cuma mohon “jawaban” dari Allah. Allah juga nggak ngasih jawaban buat kita waktu ujian, kan? kita disuruh baca, belajar!

    Iqro!

    kenapa buku SQ-nya Danar Johan itu laris dan dijadikan bahan rujukan? itu karena dia menulis dan meneliti dengan teliti. dan backgroun ilmunya juga nggak tanggung-tanggung. yah, setidaknya, dia sama istrinya udah S# psikologi dan fisika. dikolabarasi…jadilah buku yang hebat!

    apakah buku Rusdin bisa seperti itu? karena Rusdin kan nulis non-fiksi. Gimana Rus? (atau, gimana, Din?)

    kalo gue ama Tya kan fiksi. tapi fiksi lebih menantang! bisa pake jurus implicit meaning a la Bazin!

    hahaha… menarik juga lama-lama nih tema.

    salam
    mataharimerahhati

  6. tya berkata:

    To octa:
    kenapa kita gak bahas saat di kelas/kampus/ 502?
    karena kita kan udah gak ketemu semingguan lebih neng!!!!
    Secara gue bolos mulu. hehe.

    Buat Octa n Rusdin:
    Mumpung tema makin seru. Marilah kita ber’badai otak’ bersama-sama lagi. Tapi saia nanti aja yah. nulisnya di rumah biar enak. sekarang ‘bahan’nya saia bawa dulu ke rumah. hehe.

  7. tya berkata:

    Ngomongin soal fiksi dan non-fiksi dalam dunia literature.

    Sebenernya ini kan sebuah pen-genre-an karya. Dan kalau dibandingkan dengan film misalnya, kita tahu pembagian genre dalam film itu adalah produk dari industri. Ada keinginan untuk diversifikasi produk biar menjangkau market seluas-luasnya. Dari yg suka drama/ horror/ romance/ comedy/ mixed genre/ science fiction/ dll.

    Saia nggak pernah tahu historigrafi dalam literature. Kayak misalnya, karya literature pertama yang muncul di dunia. Minimal requirement-nya apa biar sesuatu bisa dianggap sebagai sebuah literature? Buku? Puisi? Haiku? Kalimat? Huruf? Atau malah gambar? Karena di zaman Mesir kuno dan juga dalam tradisi tulis-menulis jepang pun ada ideogram. Gambar yang dipakai bak sebuah bahasa (huruf?) untuk nyampein sesuatu.

    Karena saia nggak tahu soal historigrafi dalam literature, maka saia nggak bisa ‘mengira-ngira’ juga konteks awal yang memaknai literatur hingga berkembang sampai saat ini. Film, misalnya. Ketika pertama dipertunjukkan di tahun 1895, konteks awal yang ditangkap dari fenomena ‘aneh’ ini adalah hiburan.

    Karena itu sampai saat ini, meskipun film telah berkembang dilihat dari berbagai perspektif (teknologi, akademis, dll), industri tetaplah hal yang paling kuat menancap di otak orang-orang saat kita bicara soal film. Dan sebagai industri apa hal pertama yang dijual oleh film? Hiburan. Kenapa? Karena untuk mencapai market seluas-luasnya, kita harus tahu selera paling universal yang dimiliki semua orang. Dan kita tahu, nggak ada orang yang nggak mau dihibur (dengan caranya sendiri-sendiri).

    Anyway, balik ke literature. Aku pikir pembagian genre fiksi dan non fiksi itu juga punya konteks industri. Makanya aku pikir pembagian ini nggak bisa dipakai dengan sederhana di semua ranah pengklasifikasian literature.

    Kalo pake ilmu ‘asumsi semata’ sih, apa hal yang langsung menancap di otak orang-orang saat ngomong soal buku/literature/ dan kawan-kawannya aku pikir mengarah ke konteks educational. Kan gampang banget tuh meng-konotasi-kan buku sama sekolah atau kegiatan akademis lainnya.

    Btw, aku dah ngomong panjang lebar ini baru kepikiran kalo jangan-jangan maksudnya Octa ngomongin fiksi dan non-fiksi punya kepentingan dan konteks yang beda. Barangkali dia lagi ngomong soal klasifikasi metode atau ‘cara’ seorang penulis dalam menyampaikan idenya sama pembaca. Jalur fiksi dan non fiksi kita pakai sebagai klasifikasi yang memudahkan penulis buat ‘meletakkan’ karyanya di dalam industri. Mau pake ‘cara’ implicit meaning ato explicit meaning?

    Ya kalo gitu, bener juga sih, Ta. Kalo kita mau nulis fiksi, kita emang bisa banget ‘sembunyi’ di balik jurus implicit meaning a la Bazin. Tapi bow, ngomongin Bazin, nih. Dia berguru di pedepokan mane ye? Bisa-bisanya dia pake jurus implicit Meaning di buku teori yang jelas-jelas masuk kategori non-fiksi paling tidak ‘menghibur’ sedunia!

    Bazin, menurut gue adalah salah satu tokoh dalam dunia literatur yang eksperimental. Kalo dianalogiin, dia itu berusaha bikin artikel dalam jurnal ilmiah tentang teori Relativitas Waktu dengan metode penyair/pemusik yang bikin Sonata. Kacau bener ini orang.

    Buat Rusdin: Sebaiknya coba deh ikut baca Bazin. Kali aja anda menemukan sesuatu yang ‘penting’ dan bisa membantu bahan seminar saia tanggal 9 Januari nanti ^o^;

    Oh ya, jangan mau nurut disuruh sama Octa nggak boleh ikutan alias ROP (Read only, please). Speak up your mind. Lagian ini kan blog anda. Hehe.

    Kita emang nggak sopan ya, Ta, ribut di sini. Apa mau pindah ruang? Kali aja si Rusdin udah empet bener pengen ‘kickin-our-ass’ dari blog-nya. Hehe. Di blog gue gimana? Kotak komen di blog lo kemaren agak susah gitu diakses.

  8. rusdin berkata:

    Menarik Sekali diskusinya. Tapi, Maaf ya…saya belum sempat membahasnya lebih dalam sekali. menurutku, kalian berdua memiliki pemikiran yang kritis. Patut, terus ditumbuh-kembangkan!

    Mungkin, beberapa hari ke depan, saya baru bisa kasih pernyataan yang lebih dalam lagi.

  9. mataharimerahhati berkata:

    still wait… masih nungguin tanggepanmu nih. atau nggak kita demo karena dicuekin…🙂

  10. lia berkata:

    Ass…
    Ruarrrrrrrrrrrrrr biasaaaaaaaaaaa…
    bahagia sekli rasanya jika ada seorang saudara yang dengan ikhlas dan tanpa lelah serta berpositive thinking mampu menggugah semangat menulis yang seakan-akan sulit untuk digoreskan melalui penanya.(Upsss..apa ajadeh selain pena)
    padahal Allah telah jelas menjamin kalau pena seorang penulis bagaikan pedangnya seornag mujahid,,,
    Yukkkk semangat meulis,,,
    Syukron telah menggugah semangat ana untuk terus menulis dan berkarya, meskipun hanya untuk dinikmati sendiri dulu,,,
    mudah-mudahan diwaktu dan kesempatan yang tepat buku itu akan menjadi catatan sejarah bagi generasi kita kelak,,,

  11. Fatchul Amri berkata:

    assalamualaikum……

    K’Rusdin, perkenalkan sy Fatchul Amri….. siswa MAN IC Gorontalo kelas XI
    Sy mau tanya tentang profesi K’Rusdin. Dulu kuliahnya di STIS kan???…
    Sy masih penasaran bageimana itu ‘ikatan dinas’… kok k’Rusdin bisa ditmpatkan di luwuk lg??? padahalkan katanya ikatan dinas itu bisa di tempatkan dimana saja??!…. mohon penjelasannya!!!

    seharusnya ini sy tanyakan waktu K’Rusdin datang ke sini, tp ga smpat… hehe…

    k’Rusdin punya e-mail ato fb ga??! byar komunikasinya bisa lebih lancar….

  12. fi berkata:

    pingin bisa hebat kayak kak Rusdin..
    salam kenal kak, dari adik kelas.. kl ada waktu minta bantuan saran2 tulisan sy ya, kak.. mkasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s