Pandangan al-Quran Mengenai Kesuksesan dan Kebahagiaan

Sudah lumrah, setiap kepala punya definisi sukses dan bahagia masing-masing. Karena memang kita terlahir dengan latar belakang yang berbeda-beda, lingkungan yang berbeda, dan kultur yang berbeda pula. Akan tetapi, jujur saja, sukses dan bahagia sering kali kita salah mengartikannya. Atau kita mendefinisikannya sesuai dengan kehendak diri kita. Kalau sudah begini, boleh jadi definisi sukses dan bahagia kita mengikuti hawa nafsu saja. Atau sangat bersifat subjektif.

Oleh sebab itu, alangkah baiknya, jika kita kembali mencari standar kesuksesan dan kebahagiaan yang objektif. Yang bersumber dari Tuhan Semesta Alam. Dengan begitu, setiap orang punya presepsi yang sama mengenai kebahagiaan dan kesuksesan, walaupun latar belakang kita berbeda-beda.

Lantas, untuk apa kita perlu mencari arti kesuksesan dan kebahagiaan yang objektif itu? Semua itu dimaksudkan agar kita menyadari untuk apa kita hidup di dunia ini, kenapa kita mesti ada di alam ini, dan mau kemana kita kelak. Ketika kita mengetahui arti kebahagiaan dan kesuksean yang objektif, maka kita sadar bahwa kita dapat hidup indah di dunia ini dan dapat memberikan banyak kebaikan kepada orang lain. Yang pada akhirnya, kita hidup di dunia sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Kita tak akan salah melangkah mengejar kebahagiaan dan kesuksesan. Dengan kata lain, kita telah memiliki tujuan yang jelas, tidak samar.Sebaliknya, ketika kita tidak mengetahui arti sukses dan bahagia yang objektif, boleh jadi setelah memperoleh kebahagiaan dan kesuksesan (menurut definisi masing-masing), kita malah bersedih dan menyesal.

Ternyata, kesuksesan dan kebahagiaan yang kita peroleh tidak sesuai dengan tuntunan Sang Pencipta, melainkan sesuai dengan bimbingan hawa nafsu semata. Ujung-ujungnya kita menyesal. Memang sih kita dapat kembali ke titik “nol”, memperbarui arti sukses dan bahagia sesuai dengan tuntunan ilahiah, tetapi kita sudah banyak membuang-buang waktu dan energi. Mending, dari awal, kita rumuskan arti kesuksesan dan kebahagiaan yang sesuai dengan kemauan Sang Pencipta. Lalu, berusaha mencapainya.

So, apa arti kesuksesan dan kebahagiaan menurut al Quran? Silahkan buka surat al-Mukminun ayat 1-11! Saya tunggu komentar Anda.

7 thoughts on “Pandangan al-Quran Mengenai Kesuksesan dan Kebahagiaan

  1. assalammualaikum warahmatullah wabarakatuh

    ehem…ehem…jadi ga enak neh!
    udah mo 4 taon kenal sama Rusdin, eh baru tau klo Rusdin udah punya web ndiri gitu!
    jadi malu…teman apa teman ya saya nih?
    maaph ya Din, i’m not gud enough 2 know ’bout U…

    oke deh, back to tujuan awal neh…
    kemaren kan dapet bingkisan web dari Rusdin, ya ud coba buka aja…
    wah, Subhanallah…saya ngrasa left so far away behind U…hix..hix..

    emmm, cukup deh basa-basinya (udah basi dari tadi kaleee!) he..he..he..!
    saya cuma sekedar mo ikutan nimbrung neh, Din! (ngarep dapet buku gratisan… =>)
    tapi klo comment-nya aneh ato ga nyambung ato malah ngelantur, mohon bimbingannya… (he..he..skripsi kaleee, dapet bimbingan dari dosen)
    maklum deh, ya gitu deh…! =>
    udah…udah…ayo kita seriuz!

    1. Rusdin bilang, setiap orang punya definisi masing-masing tentang sukses dan bahagia tapi definisinya semau gue alias subjektip ya! saya punya pemikiran kecil (gubrax, udah kaya ahli aja gitu…) yang muncul beberapa saat sebelum berlayar ke pulau kapuk (tidur maksudnya) “Sukses ga akan menjamin lu untuk jadi bahagia, tapi kalo lu udah dapet yang namanya kebahagiaan, itu baru sukses”. kita ngelakuin sesuatu kalo didasari sama hati, biasanya berasa nikmaaat banget! kayanya asyik gitulah. kuliah, berteman, bekerja, de el el. kalo udah gitu, kita nggejalaninnya pun jadi seneng. seneng itu kan punya korelasi (halah, statistiknya keluar deh…) sama bahagia (bener ga?). dengan ngerasain bahagia dalam melakuukan sesuatu, itu yang dianggap sukses. nah, menurut Rusdin, sukses bahagia menurut saya tuh subjektip ga?

    2. neh yang terakhir…(kesannya udah panjang banget gitu). kalimat paling belakang dari tulisan ini, disebitkan : So, apa arti kesuksesan dan kebahagiaan menurut Al-Quran? silahkan buka surat Al-Mukminun ayat 1-11. saya cuma mo nampilin arti dari surat Al-Mukminun ayat 1-11 supaya memudahkan pembaca berikutnya. gimana kalo browsing-nya di warnet, ga bawa mushaf tafsir? nah makanya, nih saya tambahin… =>

    Dengan menyebut nama ALLAH, Maha Pemurah dan Penyayang
    1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman
    2. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya
    3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna
    4. dan orang-orang yang menunaikan zakat
    5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya
    6. kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela
    7. barang siapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas
    8. dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya
    9. dan orang-orang yang memelihara shalatnya
    10. mereka itulah yang akan mewarisi
    11. (yakni) yang akan mewarisi surga firdaus. mereka kekal di dalamnya

    ya ud, ini aja dulu deh. itung-itung sebagai perkenalan sama web-nya Rusdin…
    oia, ditunggu ya comment-nya atas pendapat saya di nomor satu!

    salam kenal juga buat teman-temannya Rusdin yang udah lebih dulu meninggalkan hitam di atas putih buat Rusdin (comment maksudnya. sok puitis gitu…).
    semoga teman-temannya Rusdin bisa jadi temannya saya juga…he…he…

    benar itu semuanya milik ALLAH dan karena benar memang cuma milik ALLAH
    dan salah itu dari saya dan karena memang salah itu dari saya

    wal ‘afwu minkum
    wassalammualaikum warahmatullah wabarakatuh

  2. @fajar:

    Terima kasih banyak atas tanggapan dan kunjungan ke blog saya ini. Saya senang sekali membaca komentar Fajar. Memang benar, bahagia dan sukses itu beda. Orang yang sudah sukses belum tentu bahagia. Oleh sebab itu, kita diperintahkan Allah supaya membangkitkan rasa bahagia sebelum kita bekerja, beribadah, dll. lebih jelasnya, silahkan baca: http://rusdin.wordpress.com/2007/12/29/be-happy-before-rich/

    Sering-seringlah berkunjung ke rumahku ini. sekali lagi terima kasih Fajar.

  3. assalamualaika
    salam kenal di dunia lain. di dunia nyata insya alloh aya dah kenal hehehe…
    mohon bimbingannya ya.
    oya koq es em es saya yang waktu iu ga di bales?
    mudah-mudahan lain kesempatan ada waktu buat bales pertanyaan saya ya .^_^.
    komentar saya nenti, soalnya belum sempat baca.

  4. Saya bingung sebetulnya, apa yang mau di sampaikan antum dalam tulisan ini. ya mungkin karena keterbatasan otak saya dalam mencerna. Sampai saat ini saya lebih banyak mengatakan kepada teman-teman bahwa sesuksesan dan kebahagiaan yang sejati hanyalah mendapatkan rido Alloh. Coba belajar dari nabiyulloh dan para sahabatnya, kesuksesan adalah saat kita bisa mengantarkan orang lain kepada jalan Alloh dan kebahagiaan adalah saat kita menghabiskan hasil kerja kita untuk orang lain yang benar-benar butuh, tentunya semua atas idrok sillah billah(keterikatan perbuatan kita kepada alloh). Dalam surat al-mukminun itu, saya fahamnya itu adalah pencapaian kesuksesan dan kebahagiaan pribadi saja. Sementara kita biarkan orang-orang di luar sana makin terpuruk dalam kubangan penderitaan. Saya tidak memungkiri bahwa apa yang antum sampaikan itu adalah sebuah model pencapaian kesuksesan menurut panduan Al-qurqn tapi sekali lagi, itu hanya sukses & bahagia secara pribadi, tapi ketika hal ini tidak kita barengi dengan upaya menyadarkan ummat atas rusaknya realita kehidupan dan membangkitkan mereka atau tidak adanya upaya untuk meraih kesuksesan jamaah. maka kesuksesan ini bukanlah yang diinginkan oleh Alloh! afw, tapi itulah apa yang ada di otak saya. Sesuai kalimat yang antum buka di atas “setiap kepala memiliki konsep dan definisi sukses.”

  5. hehehehe… Kak Rusdin memang pantas berbahagia. Karena banyaknya tamu yg datang berkunjung dan meninggalkan oleh-oleh. Semangat, Kak! :)

    Seperti biasa, aline akan ikutan komen yg malu-maluin. :P Itulah ciri khas dari Kak Rusdin, selalu beda. Tetapi, ingat! Bedanya jempol lho. Oke, menurut saya yg pemikirannya masih amat minim ini, seperti ini… Tetapi, sebelumnya, salam kenal dan salam hormat buat teman diskusinya, Pak Jafar dan Pak Jaka Badung. :)

    “Setiap kepala memiliki konsep dan defenisi ttg sukses dan bahagia”, begitu kata Kak Rusdin. Maksud Kak Rusdin di sini, ingin menyampaikan kalau PADA DASARNYA, kita memiliki defenisi pengertian yg berbeda ttg ‘kebahagiaan’. Tetapi, kebahagiaan yg hakiki adalah adalah kebahagiaan yg tercantum dalam QS Al-Mukminun ayat 1-11.Sangat jelas dilihat di situ kalau isi dari ayat itu adalah mencari keridhoan Illahi. Yg akhirnya adalah kebahagiaan “surga Firdaus” Tidakkah itu kesuksesan dan kebahagiaan yg gemilang? Dan, untuk mencapai tittle itu, langkah2 yg ditempuh harus diridhoai oleh Allah (sesuai ayat di atas). Bukankah begitu? :) …Sukses dan bahagia secara pribadi? Kalau saya tidak ya… Malah secara menyeluruh. Mari, kita baca dgn teliti… Saya ambil contoh ayat 8. Tidakkah itu bermakna membantu orang lain? Karena membantu orang lain juga adalah amanat2 yg dipikul sbg makhluk beriman dan makhluk sosial…

    Ya, memang kadang kita hendak menyampaikan sesuatu, tetapi orang lain mengartikannya lain. (pengalaman, alin kadang begitu sama pendapat orang. :D ). Seperti ketika seorang teman meminta maaf pada sy. Lantas saya berkata seperti ini, “Saya tidak mengenal kata maaf, Mas A/samaran! Biasa saja lagi. Saya juga kadang bercanda…” Kemudian, beliau membalas seperti ini, “Ya, aku tdk dimaafkan dong kalau begitu…” Nah, dia salah tangkap lagi kan? Maksud saya sebenarnya adalah, “Tdk ada yg perlu dimaafkan kerena sy tdk merasa disakiti…” lho, kok gak nyambung sih? :D

    Mungkin, apa yg ingin disampaikan Kak Rusdin adalah “Tolak ukur yg dirasakan oleh setiap orang ttg rasa bahagia terhadap sesuatu, berbeda2…” Sedangkan, kesuksesan dan kebahagiaan yg hakiki adalah di QS. Al-Mukminun ayat 1-11. :) Mungkin begitu. Afwan! Kalau gak nyambung. Abis, masih mentah dan lebih2, masih kecil. :)Kalau salah, jgn dimarahi ya! Tetapi, ajarin yg benarnya. :)

    Salam hormat

    Wassalamu’alaykum wr.wb.

  6. Alina…saya setuju. Sukses Pribadi mengantarkan kita sukses sosial. bagaimana mungkin kita merenagkuh sukses sosial tanpa terlebih dahulu sukses personal? Bagaimana teman2?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s